Bank Indonesia (BI) sedang mengambil langkah penting untuk meningkatkan kemudahan transaksi menggunakan mata uang Yuan di Indonesia. Inisiatif ini muncul seiring dengan meningkatnya ketertarikan terhadap skema transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) yang semakin diminati.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa nilai transaksi LCT antara Indonesia dan China telah mencapai angka yang signifikan, yaitu sekitar US$ 3,7 miliar setiap bulan. Hal ini setara dengan Rp 66,11 triliun jika dihitung berdasarkan asumsi kurs Rp 17.867 per US$.
Di samping itu, total akumulasi transaksi sepanjang tahun lalu telah melampaui angka yang mengesankan, yaitu US$ 25 miliar, atau sekitar Rp 446,69 triliun. Perry menegaskan bahwa saat ini transaksi Yuan sudah dapat dilakukan secara langsung di dalam negeri tanpa kesulitan.
Transaksi Yuan: Mempermudah Perdagangan di Dalam Negeri
Perry menjelaskan bahwa transaksi dengan Yuan China kini tersedia di bank-bank domestik melalui berbagai instrumen. Bank-bank tersebut sudah sepenuhnya siap untuk melayani kebutuhan masyarakat dalam melakukan transaksi menggunakan mata uang ini.
Dengan demikian, masyarakat yang memiliki Yuan kini bisa melakukan transaksi secara langsung, baik tunai maupun dalam bentuk spot. Selain itu, BI juga mengizinkan penggunaan transaksi berbasis currency swap dan forward.
“Jika Bapak/Ibu memiliki Yuan di dalam negeri, sekarang sangat mudah untuk melakukan transaksi,” ucap Perry. Ini merupakan terobosan untuk meningkatkan efisiensi serta kecepatan dalam transaksi finansial.
Perluasan Penggunaan Yuan dalam Transaksi Ekspor
Sejalan dengan upaya ini, BI juga mendorong penggunaan Yuan dalam kerangka Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). Selama ini, mayoritas instrumen penempatan DHE SDA menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama.
Namun, ke depan, BI berencana untuk memperluas penggunaan mata uang yang dapat digunakan oleh para eksportir. Ini diharapkan dapat memberikan lebih banyak fleksibilitas bagi eksportir dalam mengelola devisa dari hasil ekspor mereka.
Perry menyatakan bahwa kebijakan ini juga mencakup perpanjangan tenor instrumen DHE SDA hingga 12 bulan. Tujuannya adalah untuk memberikan keleluasaan lebih besar kepada eksportir dalam memanfaatkan hasil devisa mereka di perbankan domestik.
Kemajuan Ekonomi Melalui Transaksi Latar Belakang Peningkatan LCT
Peningkatan penggunaan LCT mencerminkan perkembangan ekonomi yang dinamis antara Indonesia dan China. Adanya kemudahan dalam transaksi ini diharapkan dapat meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara.
Dengan memfasilitasi transaksi lokal, negara dapat mereduksi ketergantungan terhadap mata uang asing, terutama dolar AS. Hal ini tidak hanya mendukung kestabilan ekonomi, tetapi juga menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Perry menambahkan bahwa upaya ini merupakan bagian dari komitmen BI untuk meningkatkan integrasi sistem keuangan nasional serta mendukung sektor perdagangan. Keterlibatan yang lebih aktif dalam perdagangan dengan China diharapkan bisa membawa keuntungan bagi kedua pihak.















