Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau yang lebih akrab disapa Gus Yahya, kini tengah menghadapi tantangan besar dalam kepemimpinannya. Tuduhan mengenai afiliasi dirinya dengan jaringan zionisme internasional menjadi isu yang tengah diperbincangkan di kalangan pengurus internal NU.
Isu tersebut mencuat usai adanya risalah rapat harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025 yang menyebutkan adanya pemakzulan terhadap Gus Yahya. Dalam risalah tersebut, ia dikaitkan dengan kebijakan mengundang akademisi pro-zionis sebagai narasumber dalam sebuah forum di Jakarta.
Gus Yahya menanggapi tudingan tersebut dengan tegas, bahwa kunjungannya ke Israel pada 2018 untuk mengikuti sebuah forum di Yerusalem, dan pertemuannya dengan Presiden Israel, Benjamin Netanyahu, tidak ada hubungannya dengan jaringan zionisme. Ia menegaskan, tujuan kedatangannya adalah untuk membela Palestina.
Polemik Terhadap Kunjungan ke Israel dan Implikasinya
Dalam pernyataannya, Gus Yahya mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Israel bukanlah suatu hal yang baru dan tidak pernah dipermasalahkan oleh internal NU sebelumnya. Kenyataannya, dalam Muktamar NU ke-34 pada 2021, ia terpilih menjadi Ketua Umum dengan dukungan mayoritas pengurus, meski publik tahu tentang kunjungannya tersebut.
Ia mengingatkan bahwa pengurus NU yang memilihnya telah memahami misinya. Gus Yahya menyatakan bahwa ia dengan jelas menyuarakan dukungan terhadap Palestina selama di Yerusalem, bahkan di hadapan Netanyahu sendiri.
“Di forum itu, saya mengatakan bahwa kedatangan saya adalah untuk membela Palestina, dan saya tidak akan mundur dari posisi ini,” kata Gus Yahya dengan tegas. Ini menunjukkan komitmen yang kuat dari dirinya terhadap isu Palestina, yang menjadi dasar dukungan pengurus NU untuknya.
Dampak Narasumber Pro-Zionis dalam Kaderisasi NU
Salah satu sorotan utama dalam risalah rapat yang menjadi isu adalah kedatangan narasumber yang terkait dengan jaringan zionisme internasional di Akademi Kepemimpinan Nasional Nahdlatul Ulama (AKN NU). Peter Berkowitz diundang sebagai pemateri, yang memicu ketidakpuasan di kalangan beberapa pengurus.
Dokumen risalah menyatakan bahwa tindakan tersebut dianggap melanggar nilai ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran nilai di dalam organisasi yang telah berbasis pada tradisi dan norma keagamaan yang kuat.
Rapat Syuriyah PBNU menyimpulkan bahwa pelaksanaan program dengan narasumber tersebut menyalahi ketentuan yang mengatur pelanggaran terhadap reputasi organisasi. Ini menunjukkan adanya ketegangan yang mungkin akan berpengaruh pada stabilitas kepemimpinan Gus Yahya ke depan.
Respon dan Penjelasan dari Gus Yahya
Gus Yahya berusaha menjelaskan kepada publik bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidak didasari oleh fakta yang kuat. Dalam kursus waktu yang sama, ia juga mencoba menyampaikan pemahaman yang mendalam mengenai misinya selama berada di Israel.
“Saya bukan bagian dari jaringan zionisme, tetapi saya adalah seorang pejuang untuk Palestina,” tegas Gus Yahya. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan yang diambilnya bertujuan untuk tujuan yang mulia, yaitu memperjuangkan hak-hak rakyat Palestina.
Dalam konteks ini, ia berharap agar semua pihak memahami bahwa dialog dan kerjasama internasional kadang kali diperlukan untuk mencapai tujuan yang lebih besar. Hal ini menunjukkan pandangannya yang pragmatis dalam menghadapi isu-isu global.
Ketersediaan Bukti dan Klarifikasi Lanjutan
Bukti-bukti yang dikemukakan dalam dokumen risalah rapat tersebut masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Gus Yahya menegaskan bahwa ia siap untuk membuka diri terhadap diskusi dan klarifikasi, asalkan itu dilakukan dengan cara yang konstruktif.
“Saya selalu terbuka untuk berdialog dan menjelaskan segala sesuatunya,” ungkapnya. Sebagai seorang pemimpin, ia mengajak pengurus dan masyarakat untuk tidak terjebak dalam isu sensasi yang sering kali membingungkan.
Melalui dialog terbuka, Gus Yahya berharap bisa meredakan ketegangan yang ada di tubuh Nahdlatul Ulama dan memperkuat komitmen bersama dalam memperjuangkan nilai-nilai keislaman yang sudah menjadi landasan organisasi.













