Mantan Kepala Kantor Bea dan Cukai Makassar, Andhi Pramono, sudah ditetapkan hukuman 12 tahun penjara setelah Mahkamah Agung menolak upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Putusan ini menunjukkan ketegasan dalam penegakan hukum terhadap kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik.
Keputusan ini diumumkan secara resmi dan menegaskan komitmen lembaga peradilan untuk tidak memberi toleransi terhadap tindakan korupsi. Kasus tersebut menjadi perhatian publik, mengingat besarnya jumlah gratifikasi yang diterima oleh Andhi selama menjabat.
Perkara ini diadili oleh majelis hakim yang terdiri dari Prim Haryadi sebagai ketua, serta hakim anggota Ansori dan Achmad Setyo Pudjoharsoyo. Dengan pengawasan yang ketat, tiap aspek dari kasus ini diteliti agar keadilan bisa ditegakkan secara transparan.
Detail Kasus dan Persidangan yang Dijalani Andhi Pramono
Nomor perkara yang mengadili Andhi Pramono adalah 1641/PK.PIDSUS/2026 dan dibacakan pada 28 April 2026. Proses hukum ini melibatkan banyak elemen, termasuk pengacara dan jaksa yang berjuang untuk menegakkan keadilan.
Dalam persidangan tersebut, Andhi dinyatakan bersalah atas tuduhan menerima gratifikasi yang mencapai lebih dari Rp58,9 miliar. Uang ini didapatkan selama periode 2012 hingga 2023, ketika ia menjabat di berbagai posisi di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Hukuman yang dijatuhkan ini lebih berat dari tuntutan awal Jaksa Penuntut Umum yang mengajukan hukuman 10 tahun dan 3 bulan penjara. Keputusan ini menunjukkan bahwa pengadilan mempertimbangkan dampak dari tindakan Andhi terhadap masyarakat dan negara.
Tindak Pidana yang Ditemukan dalam Penyelidikan
Andhi Pramono terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima uang suap selama menjalani berbagai jabatan. Ia menjabat di posisi penting yang seharusnya bertanggung jawab untuk pengawasan dan penegakan hukum di sektor kepabeanan.
Pada posisi terakhirnya, sebagai Kepala KPPBC TMP B Makassar, Andhi telah menciptakan ruang untuk praktik korupsi yang merugikan negara. Pembuktian ini melibatkan investigasi mendalam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang berhasil mengumpulkan bukti cukup untuk mendudukkan Andhi di depan hukum.
Selama proses perijinan, banyak fakta mengejutkan terungkap. Kesaksian dari berbagai pihak dan bukti transaksi keuangan menunjukkan bahwa gratifikasi tersebut bukan hanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi, tetapi memiliki pola yang jelas dan terencana.
Reaksi Masyarakat dan Implikasi Hukum Kasus Ini
Keputusan Mahkamah Agung ini mendapat sambutan beragam dari masyarakat. Banyak yang merasa lega karena hukum akhirnya ditegakkan, sementara yang lain menyoroti perlunya reformasi lebih dalam lagi terhadap sistem di dalam lembaga pemerintah.
Implicasi hukum dari kasus ini berpengaruh pada kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan. Korupsi yang melibatkan pejabat tinggi seperti Andhi menunjukkan perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap praktik di sector publik.
Masyarakat berharap bahwa penegakan hukum yang tegas ini menjadi awal baru dalam memberantas korupsi di Indonesia, di mana setiap pelanggaran hukum harus mendapat konsekuensi yang sesuai. Ini juga menandakan pentingnya edukasi publik tentang integritas dan tanggung jawab dalam menjalankan jabatan.











