Duka yang mendalam menyelimuti keluarga Sari Sukoco, seorang sopir truk yang berasal dari Tulungagung. Kepergian Sukoco yang tragis dalam insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II pada awal bulan Agustus menjadi pukulan berat bagi orang-orang terdekatnya.
Setelah proses identifikasi yang dilakukan di RS Bhayangkara Polda Jatim, jenazah Sukoco berhasil teridentifikasi dan disambut haru oleh keluarganya. Kakak korban, Elly Sri Rahayu, menerima banyak pesan dari keluarga dan teman yang menanyakan keberadaan Sukoco ketika kabar duka mulai menyebar.
Elly menjelaskan bagaimana ia mendapatkan informasi mengenai Sukoco dari keponakannya yang mengabarkan bahwa adiknya telah meninggal dunia sekitar pukul 02.00 WIB. Keluarga diminta untuk datang ke rumah sakit agar bisa memastikan identitas jenazah tersebut.
Sukoco yang bekerja sebagai sopir angkutan barang antarpulau jarang berkomunikasi dengan keluarganya. Hal ini disebabkan oleh jadwal kerjanya yang padat dan sulitnya akses sinyal di tengah laut, sehingga komunikasi hanya terjadi saat momen penting seperti Natal atau Lebaran.
Meski komunikasi jarang terjadi, hubungan Sukoco dengan keluarga tetap erat. Elly mengenang sikap adiknya yang sangat bertanggung jawab dan mencintai keluarga, terutama anak-anak dari keponakannya. Saat menceritakan sosoknya, suara Elly bergetar, menggambarkan betapa besar rasa kehilangan yang dirasakannya.
Profil Singkat dan Kehidupan Sukoco yang Penuh Dedikasi
Sukoco adalah anak bungsu dari enam bersaudara, tidak pernah menikah semasa hidupnya. Meskipun kehidupannya banyak dihabiskan di jalanan, ia memiliki lebih dari sepuluh keponakan yang sangat dicintainya.
Keluarganya menganggap Sukoco sebagai sosok pekerja keras yang selalu memprioritaskan tanggung jawabnya terhadap keluarga besar. Sudah biasa baginya untuk mengirim barang ke berbagai penjuru Indonesia, meskipun ia harus mengorbankan waktu berkumpul bersama keluarga.
Dalam pandangan Elly, Sukoco bukan hanya seorang sopir, tetapi juga sosok panutan bagi anak-anak di keluarganya. Penyayangnya terhadap keluarga membuatnya dikenal sebagai sosok yang tidak pelit, dan selalu siap membantu keponakannya dalam kebutuhan apapun.
Detik-Detik Tragis di Kapal KMP Mutiara Sentosa II
Di tengah duka, muncul pengalaman haru dari Bambang Susilo, salah satu korban selamat dari kebakaran kapal tersebut. Bambang yang merupakan kernet truk yang dikemudikan oleh Sukoco, turut memberikan kesaksian bagaimana ia dan Sukoco terpisah saat insiden berlangsung.
Bambang menjelaskan momen ketika ia melompat dari kapal untuk menyelamatkan diri, sementara Sukoco masih berada di dalam. Dalam rombongan yang terdiri dari enam orang, situasi menjadi semakin tegang saat api mulai menjalar, memaksa mereka untuk mengambil tindakan cepat.
Beberapa rekan mereka sudah melompat lebih dulu, dan saat Bambang mengajak Sukoco untuk ikut, ia merasakan adanya keraguan di diri adiknya. Tanpa disangka, saat ia memutuskan untuk melompat, kepanikan di sekitarnya mengakibatkan mereka terpisah.
Bambang hanya bisa berharap, semoga Sukoco berhasil keluar dengan selamat. Namun, kabar duka akhirnya datang ketika ia mengetahui bahwa Sukoco tidak bisa menyelamatkan diri, yang membuatnya sangat terpukul.
Penerimaan Keluarga Terhadap Kepergian Sukoco
Elly dan keluarga lainnya kini berusaha untuk menerima kepergian Sukoco dengan lapang dada. Mereka meyakini bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari kehendak Tuhan yang harus diterima. Rasa syukur tetap ada, meskipun dengan kesedihan mendalam.
Elly menceritakan bahwa ia terus berdoa agar Tuhan memberikan ketabahan untuk menghadapi cobaan ini. Pesan tentang cinta dan kasih sayang kepada keluarga menjadi pegangan yang tidak pernah pudar, meski Sukoco sudah tiada.
Hingga saat ini, keluarga dan sahabat yang ditinggalkan masih berusaha menjaga kenangan akan Sukoco. Mereka akan terus mengenang sosok yang penuh dedikasi dan bertanggung jawab, yang selalu mencintai keluarga di manapun ia berada.
















