Aktivitas pendakian Gunung Kerinci yang terletak di batas antara provinsi Jambi dan Sumatera Barat masih dalam status tertutup. Penutupan ini dilakukan meskipun level kegempaan di area tersebut mulai menurun, guna menghormati ritual adat yang penting bagi masyarakat setempat.
Kepala Resort Gunung Kerinci, Eko Supriyatno, menyatakan bahwa pengelola bersama warga dan pegiat lingkungan telah merencanakan kegiatan bersih-bersih di jalur pendakian. Kegiatan ini termasuk dalam ritual adat yang melibatkan desa-desa yang berada di kaki Gunung Kerinci.
Eko menjelaskan, kegiatan bersih-bersih tersebut dihadiri oleh empat desa yang berkoordinasi, dengan Desa Kersik Tuo sebagai pemimpin. Selain membersihkan jalur, mereka juga merencanakan potong kambing sebagai bagian dari tradisi.
Ritual ini bertujuan untuk menghormati permintaan dari Gunung Kerinci, yang secara spiritual dianggap sebagai entitas berbahaya jika tidak diperlakukan dengan baik. Tradisi ini merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Desa-desa yang terlibat dalam kegiatan ini termasuk Desa Kersik Tuo, Batang Sangir, Lindung Jaya, dan Mekar Jaya. Ritual yang penuh makna ini dijadwalkan berlangsung pada 22 Januari 2026.
Resort Gunung Kerinci juga mengajak relawan dari berbagai komunitas untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembersihan. Kegiatan ini diharapkan dapat berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 23 hingga 25 Januari 2026, dengan semangat gotong royong yang tinggi.
Pentingnya Mempertahankan Tradisi dan Lingkungan di Sekitar Gunung Kerinci
Tradisi merawat lokasi suci seperti Gunung Kerinci mencerminkan hubungan erat antara masyarakat dan lingkungan mereka. Aktivitas ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan, tetapi juga untuk menjalin ikatan sosial di antara penduduk setempat.
Selain dari segi kebersihan, tradisi ini juga membawa pengaruh positif bagi kesejahteraan masyarakat. Di dalam budaya lokal, menciptakan syukuran seperti potong kambing menjadi simbol rasa terima kasih dan penghormatan terhadap alam.
Ritual bersih-bersih yang melibatkan banyak desa menciptakan perasaan komunal yang kuat. Dengan bersatu untuk suatu tujuan, penduduk setempat dapat lebih menghargai warisan budaya dan keindahan alam yang ada di sekitar mereka.
Kegiatan ini juga berfungsi sebagai pengingat bagi generasi muda mengenai pentingnya menjaga alam dan tradisi. Melalui partisipasi aktif, mereka diharapkan dapat belajar mengenai nilai-nilai lingkungan serta pentingnya keterlibatan komunitas dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Secara keseluruhan, kegiatan pembersihan ini mencerminkan fokus pada keberlanjutan dan rasa tanggung jawab kolektif terhadap lingkungan. Ini menjadi contoh bagi daerah lain untuk melakukan hal yang sama dan menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kekayaan alam.
Peran Masyarakat dalam Melestarikan Alam dan Kearifan Lokal
Masyarakat lokal memainkan peran penting dalam menjaga kelestarian Gunung Kerinci. Mereka memiliki pengetahuan yang dalam mengenai cara mengelola sumber daya alam dengan bijak, yang telah diwarisi dari nenek moyang mereka.
Keterlibatan masyarakat dalam ritual adat juga membantu melestarikan kearifan lokal. Dengan demikian, pendidikan dan keberlanjutan budaya dapat terjaga dan dilanjutkan oleh generasi mendatang.
Masyarakat setempat percaya bahwa dengan merawat dan menghormati alam, mereka juga menjaga keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri. Seiring evolusi zaman, hubungan antara manusia dan alam harus tetap dijaga agar tidak saling merugikan.
Namun, tantangan pun menghadang di depan, seperti perubahan iklim dan perkembangan infrastruktur yang kadang merusak lingkungan. Di sinilah peran aktif masyarakat menjadi sangat krusial untuk mengatasi berbagai masalah dan kembali menekankan pentingnya tradisi dalam mengelola alam.
Melalui partisipasi dalam aktivitas semacam ini, masyarakat juga dapat menjadi suara yang lebih kuat dalam pengambilan keputusan terkait lingkungan. Mereka dapat menyampaikan aspirasi dan kekhawatiran, serta berkontribusi dalam pembuatan kebijakan yang lebih pro-lingkungan.
Proyeksi Ke Depan untuk Gunung Kerinci dan Keberlanjutan Lingkungan
Ke depan, harapan untuk Gunung Kerinci adalah menjadi destinasi yang lebih lestari dan ramah lingkungan. Dengan pendidikan yang tepat dan kesadaran kolektif, kawasan ini bisa berkembang menjadi contoh bagi pariwisata berkelanjutan.
Pemanfaatan sumber daya alam yang bijak dan berkelanjutan sangat penting untuk menjaga keindahan alam sekitarnya. Inisiatif masyarakat seperti bersih-bersih jalur pendakian merupakan langkah positif menuju arah tersebut.
Dalam upaya pelestarian lingkungan, kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus ditingkatkan. Ini untuk memaksimalkan potensi Gunung Kerinci sebagai area konservasi yang sekaligus menarik berbagai kegiatan wisata alam.
Program-program pendidikan lingkungan dapat menjadi solusi untuk mendidik generasi mendatang mengenai konservasi. Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya menjaga alam akan semakin berkembang di kalangan generasi muda.
Gunung Kerinci tidak hanya sebagai objek wisata, melainkan juga sebagai simbol budaya dan lingkungan yang harus dijaga. Oleh karena itu, kolaborasi dan kerja sama semua pihak sangat diperlukan untuk mencapai keberlanjutan yang diinginkan.













