Tim investigasi saat ini tengah berupaya untuk melacak jejak dari sebuah perangkat pintar yang dimiliki oleh seorang kopilot pesawat ATR 42-500 setelah terjadi kecelakaan di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Perangkat tersebut dilaporkan masih menunjukkan aktivitas yang mencurigakan usai insiden tragis ini dan menimbulkan harapan akan kemungkinan adanya korban selamat.
“Kami bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai situasi ini. Pihak kekasih kopilot telah melaporkan ke Cyber Crime untuk menemukan lokasi terakhir dari perangkat tersebut,” ungkap Arman Amiruddin, Staf AMC Basarnas, dalam konferensi pers yang diadakan untuk memberikan perkembangan terbaru mengenai pencarian tersebut.
Pemantauan awal dari perangkat menunjukkan bahwa pada Minggu pagi, sekitar pukul 06.53 WITA, terdapat pencatatan langkah sebanyak seribu, kemudian meningkat menjadi 13 ribu langkah pada pukul 05.33 WITA. Temuan ini menimbulkan kehebohan dan memunculkan harapan akan kemungkinan tanda kehidupan.
Proses Pencarian dan Kendala yang Dihadapi Tim Basarnas
Namun, Arman menekankan pentingnya untuk tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan mengenai situasi ini. “Kami belum bisa memastikan apakah data yang didapat dari smartwatch itu menjadi indikator adanya kehidupan atau tidak,” tegasnya.
Terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi tim Basarnas, termasuk kondisi terjunnya yang sulit serta keterbatasan akses terhadap perangkat yang kini dalam kondisi terkunci. Hal ini membuat upaya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut menjadi rumit.
Dalam usaha untuk membuka kunci handphone yang ditemukan bersama barang-barang korban, Basarnas harus mengajukan surat pernyataan agar perangkat tersebut bisa dibawa ke Makassar. Proses ini penting agar data yang ada dapat diperiksa lebih lanjut.
Pentingnya Data dalam Operasi Penyelamatan
Setelah proses pemeriksaan dilakukan, pihak keluarga menyampaikan terdapat aktivitas yang terdeteksi pada perangkat tersebut. Namun, tim Basarnas yang langsung hadir di lokasi tetap tidak mendengar adanya suara atau tanda permohonan bantuan dari pihak manapun di lokasi kejadian.
Tim SAR yang dibentuk terdiri dari berbagai personel yang bekerja keras untuk menjelajahi lokasi kecelakaan juga tidak mendapati tanda-tanda adanya orang yang selamat di sekitar lokasi. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan petunjuk lebih lanjut dari data yang didapat.
Keberlanjutan Upaya Penyelamatan dan Pencarian
Saat ini, tim Basarnas sedang menunggu hasil pemeriksaan dari Cyber Crime guna mendapatkan titik koordinat terakhir dari perangkat pintar tersebut. Data yang diperoleh nantinya akan dikirimkan kepada tim yang bertanggung jawab untuk melanjutkan pencarian.
“Kami berharap bisa segera mendapatkan laporan yang akurat untuk mengetahui titik terakhir di mana perangkat itu dapat terdeteksi. Ini sangat penting untuk menentukan langkah selanjutnya dalam operasi penyelamatan,” ungkap Arman.
Tim Basarnas tetap optimis dan berkomitmen untuk melakukan segala upaya guna membantu pencarian serta memberikan dukungan kepada keluarga para korban. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, setiap data berharga untuk meningkatkan kemungkinan menemukan siapa pun yang mungkin masih selamat.













