Dua bulan setelah bencana banjir dan longsor melanda Sumatra Utara, delapan desa di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara masih terisolasi. Akses yang belum sepenuhnya pulih menyebabkan kendaraan roda empat sulit menjangkau wilayah tersebut, mengakibatkan dampak yang berkepanjangan bagi masyarakat setempat.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Utara, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengungkapkan bahwa dampak bencana masih dirasakan oleh warga. Kendati beberapa akses sudah dapat dilalui, penggunaan sepeda motor trail menjadi satu-satunya solusi sementara untuk menjangkau desa-desa yang terisolasi.
“Walaupun wilayah terisolasi sudah dapat dilalui, kendaraan roda empat masih belum bisa masuk,” jelas Sri Wahyuni, menegaskan bahwa upaya perbaikan akses jalan masih terus dilakukan agar distribusi bantuan lebih efektif.
Keadaan Desa Terisolasi di Tapanuli Tengah
Di Kabupaten Tapanuli Tengah, empat desa masih tetap terputus dari akses utama. Dua desa di Kecamatan Tukka, yaitu Desa Saur Manggita dengan 102 Kepala Keluarga dan Desa S. Kalangan 2 yang memiliki 214 Kepala Keluarga, merupakan wilayah yang sangat memerlukan perhatian.
Sementara itu, di Kecamatan Sibabangun, Desa Sibio-Bio yang dihuni oleh 298 Kepala Keluarga dan Desa Sialogo di Kecamatan Lumut dengan 254 Kepala Keluarga juga mengalami kondisi serupa. Keadaan ini menunjukkan betapa parahnya dampak bencana yang terjadi di daerah ini.
Akses jalan yang terputus akibat longsor membuat warga di desa-desa tersebut terpaksa bertahan di tempat. Walaupun dalam keadaan sulit, mereka tetap tidak mengungsi ke luar wilayah, menunggu upaya perbaikan dan bantuan sosial dari pemerintah.
Kondisi Desa Terisolasi di Tapanuli Utara
Selain Tapanuli Tengah, di Kabupaten Tapanuli Utara ada empat desa yang juga mengalami situasi serupa. Di Kecamatan Sipoholon, terdapat Desa Rura Julu Toruan yang dihuni oleh lima Kepala Keluarga, menjadi salah satu desa terisolasi yang membutuhkan bantuan segera.
Di Kecamatan Parmonangan, tiga desa yang terdampak mencakup Desa Hutajulu Parbalik dengan 65 Kepala Keluarga, Desa Hutatua yang memiliki 128 Kepala Keluarga, dan Desa Pertengahan dengan 178 Kepala Keluarga. Keberadaan mereka yang terisolasi secara langsung meningkatkan risiko bagi kebutuhan dasar pangan dan kesehatan.
Petugas BPBD Sumut bersama dengan relawan tentu melakukan segala yang mungkin untuk memberikan dukungan. Meskipun akses sulit, mereka berupaya menyuplai bantuan dengan kendaraan yang memadai dan berjalan kaki ke lokasi yang terkena dampak.
Strategi Penyaluran Bantuan dan Pemantauan Kondisi Warga
BPBD Sumut terus berkomitmen untuk menyalurkan bantuan logistik kepada masyarakat. Meskipun jarak dan medan yang sulit menjadi tantangan, tim penyaluran tetap berusaha semaksimal mungkin agar setiap warga yang membutuhkan bantuan mendapatnya.
Sri Wahyuni menegaskan bahwa upaya distribusi tidak hanya dilakukan secara langsung, namun juga dengan pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi warga. Selain itu, perbaikan jalan juga dilakukan secara bertahap agar akses dapat kembali normal.
Dengan adanya bantuan yang terus disalurkan, diharapkan aktivitas perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan, mengurangi kesulitan yang dirasakan akibat bencana ini. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam proses rehabilitasi daerah terdampak.
Dampak Banjir dan Longsor di Sumatra Utara
Banjir dan longsor yang terjadi sejak 24 November 2025 akibat curah hujan tinggi telah menyebabkan kerusakan parah di beberapa wilayah. Berbagai daerah seperti Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara mengalami kerugian yang signifikan, baik dari segi materiil maupun kehilangan jiwa.
Kerusakan yang terjadi bukan hanya merupakan bencana alam, namun juga dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang berdampak pada lingkungan. Kerusakan hutan menjadi salah satu faktor utama yang memperparah bencana, menyulitkan kemungkinan penanganan di masa mendatang.
Dengan berbagai akar permasalahan yang ada, pihak pemerintah berupaya untuk memperbaiki infrastruktur dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Hasil dari pendidikan ini diharapkan dapat mengurangi risiko bencana di masa yang akan datang.













