Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi santri. Dalam menghadapi perubahan zaman, santri diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi digital, termasuk kecerdasan buatan, untuk memperluas kontribusi dalam pembangunan bangsa.
Pesan ini disampaikan dalam acara Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta, yang berlangsung pada malam hari dalam rangka memperingati Hari Santri 2026. Nasaruddin menyebut bahwa pemanfaatan teknologi harus sejalan dengan tradisi dan nilai-nilai pendidikan Islam yang sudah ada.
Dalam kesempatan itu, Nasaruddin juga menggarisbawahi tantangan yang dihadapi generasi santri saat ini. Dengan perkembangan teknologi yang pesat dan dinamika kehidupan global, pesantren dituntut untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas kompetensi lulusannya.
“Penguasaan ilmu agama secara mendalam harus dibarengi dengan kemampuan memahami perkembangan sains dan teknologi informasi,” tegasnya. Hal ini menjadi bekal penting agar santri berperan aktif dalam pengembangan dakwah, pendidikan, dan pembangunan nasional.
Berdasarkan pernyataannya, perkembangan teknologi digital membuka peluang baru bagi pendidikan pesantren. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkaya pembelajaran, memperluas akses literatur, dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Nasaruddin juga menambahkan bahwa meskipun ada banyak manfaat, pemanfaatan teknologi harus dilakukan dengan kesadaran etis. Dia mengingatkan bahwa tujuan pendidikan tetap harus membentuk individu yang berilmu dan berakhlak.
Pentingnya Transformasi Pendidikan Pesantren di Era Digital
Nasaruddin menjelaskan kekuatan pendidikan pesantren terletak pada tradisi keilmuan yang telah berkembang selama berabad-abad. Tradisi tersebut mencakup penguasaan kitab-kitab keislaman dan kesinambungan sanad keilmuan.
Melalui kajian kitab kuning, halaqah, dan pembelajaran langsung, pesantren dapat membentuk karakter dan kedisiplinan intelektual santri. Otoritas keilmuan yang dihormati menjadi bagian penting dari kekhasan pesantren yang perlu dijaga.
Dalam konteks transformasi, Nasaruddin menekankan bahwa penguasaan teknologi tidak bertentangan dengan pelestarian tradisi. Justru, kombinasi keduanya dapat mengembangkan model pendidikan yang memperkaya ilmu pengetahuan.
Dengan memanfaatkan teknologi, pesantren dapat memperluas ruang pengembangan keilmuan. Namun, tradisi keilmuan memberikan landasan moral dalam menghadapi kemajuan zaman yang cepat.
“Keseimbangan antara teknologi dan pembentukan karakter sangatlah penting,” lanjutnya. Santri tidak hanya dituntut untuk mengikuti perubahan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memberikan dampak positif pada masyarakat.
Menghadapi Tantangan Generasi Santri dengan Kemampuan Inovatif
Dalam menghadapi tantangan tersebut, Nasaruddin mengajak santri untuk beradaptasi dengan teknologi terkini. Mereka harus terbuka terhadap inovasi yang dapat membantu dalam proses belajar-mengajar.
Perkembangan teknologi, menurutnya, bisa menjadi alat yang membantu dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai Islam. Dengan memanfaatkan platform digital, santri dapat menjangkau audiens yang lebih luas.
Nasaruddin juga berpendapat bahwa pendidikan di pesantren harus lebih inklusif. Ini berarti bahwa santri tidak hanya belajar dari dalam lingkungan pesantren, tetapi juga mengintegrasikan ilmu pengetahuan dari luar.
“Santri harus mampu menggabungkan ilmu agama dengan teknologi modern untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya. Pendekatan ini akan membantu menciptakan santri yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga inovatif.
Dengan dukungan dari lembaga pendidikan dan pemerintahan, diharapkan pesantren dapat menghasilkan lulusan yang unggul, mampu bersaing di era digital. Ini adalah tantangan dan peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal.
Pentingnya Etika dan Tanggung Jawab dalam Pemanfaatan Teknologi
Nasaruddin mengingatkan bahwa setiap kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kesadaran etis. Pemanfaatan teknologi tidak boleh menjauhkan pendidikan dari tujuan utamanya, yaitu membentuk individu yang berilmu dan berakhlak mulia.
Kesadaran akan tanggung jawab moral menjadi kunci dalam pemanfaatan teknologi di pesantren. Santri tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu, tetapi juga harus mampu menerapkan nilai-nilai keislaman dalam setiap tindakan mereka.
“Penggunaan teknologi harus selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat,” jelasnya. Santri diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang bijak, dengan menggunakan teknologi untuk kebaikan.
Dengan mengedepankan etika, pesantren dapat turut serta dalam membangun masyarakat yang lebih baik dan beradab. Ini adalah wujud nyata dari pengamalan nilai-nilai ajaran Islam yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Akhir kata, pengembangan pendidikan yang berkelanjutan harus tetap berfokus pada penguatan karakter santri. Sebab, karakter yang baik merupakan fondasi bagi setiap individu dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
















