Pada Sabtu, 9 Januari 2021, dunia penerbangan Indonesia dikejutkan oleh berita hilangnya kontak pesawat Sriwijaya Air SJ 182. Pesawat yang berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Pontianak tersebut dinyatakan hilang sesaat setelah lepas landas kurang dari dua menit.
Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 14.44 WIB, ketika pesawat ini terbang di atas perairan kepulauan yang dikenal sekitarnya. Sejak saat itu, pencarian besar-besaran dilakukan untuk menemukan puing-puing pesawat dan penumpangnya.
Di antara berbagai laporan dan kesaksian, muncul penjelasan dari otoritas terkait yang membahas situasi pesawat sebelum kecelakaan. Beberapa jam setelah hilang, pihak maskapai memastikan bahwa pesawat dalam kondisi baik sebelum terbang.
Detail Keberangkatan dan Permohonan Ketinggian
Pada pukul 14.36 WIB, pesawat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta sebagaimana baku. Sesaat setelah lepas landas, pilot meminta izin untuk menaikkan ketinggian dari 1.700 kaki menjadi 29.000 kaki.
Namun, hanya tiga menit kemudian, petugas ATC di Jakarta mencatat adanya perubahan arah penerbangan pesawat yang mencurigakan. Pada pukul 14.40 WIB, pesawat mulai menunjukkan perilaku aneh sebelum akhirnya hilang dari radar.
Kecemasan mulai melanda ketika pesawat tidak lagi bisa ditangkap oleh sistem pemantauan. Hal tersebut memicu berbagai upaya penyelamatan yang segera dilaksanakan oleh otoritas penerbangan dan pencarian di laut.
Konfirmasi dari Pihak Sriwijaya Air
Jefferson Jauwena, Direktur Utama Sriwijaya Air, menjelaskan bahwa keadaan pesawat sebelum lepas landas terjamin. Ia menyatakan bahwa pesawat dengan kode registrasi PK-CLC itu dalam kondisi prima dan laik terbang.
Menurut Jefferson, pesawat tersebut sebelumnya telah melakukan penerbangan dari Pontianak ke Jakarta tanpa kendala. Apalagi semua catatan pemeliharaan pesawat menunjukkan hasil yang baik dan layak untuk terbang.
Ia pun menambahkan bahwa keterlambatan terbang pesawat tersebut selama 30 menit diakibatkan oleh cuaca buruk yang melanda kawasan. Hujan deras saat itu membuat pihak maskapai memutuskan untuk menunda keberangkatan demi keselamatan.
Saksi Mata dan Kebisingan di Sekitar Pulau
Segera setelah pesawat dilaporkan hilang, banyak saksi di sekitar Kepulauan Seribu yang melaporkan mendengar suara dentuman kencang. Namun, banyak dari mereka yang mengira suara tersebut adalah petir akibat cuaca yang sangat buruk pada saat itu.
Informasi yang didapat dari saksi mata itu menunjukkan keanehan keadaan di sekitar saat pesawat hilang. Meskipun hujan deras, warga tetap sangat memperhatikan situasi di sekitar mereka, karena suara tersebut sangat mengganggu.
Pihak otoritas juga mendapatkan laporan dari Flightradar24, yang menyatakan bahwa pesawat kehilangan ketinggian lebih dari 10.000 kaki dalam waktu kurang dari satu menit. Data ini memberikan gambaran serius tentang keadaan pesawat dalam waktu-waktu kritis tersebut.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan Pesawat yang Hilang
Sejak keterlaluan kejadian tersebut, pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dilakukan secara intensif oleh tim gabungan. Pencarian meliputi area luas di perairan sekitar Kepulauan Seribu, dengan menggunakan kapal dan pesawat penyelamat.
Berbagai alat dan teknologi modern dimanfaatkan untuk mencari puing-puing pesawat dan boks hitam yang memiliki data penting untuk analisis lebih lanjut. Upaya penyelamatan ini melibatkan banyak lembaga dan relawan dari seluruh Indonesia.
Tidak hanya itu, laporan baru mulai bermunculan dari para nelayan yang melintas di sekitar lokasi. Mereka membagikan informasi yang mungkin dapat membantu dalam mengidentifikasi lokasi kecelakaan tersebut dan potensi penemuan benda-benda penting.













