Bonnie menekankan bahwa infrastruktur impunitas telah menjadikan kekerasan sebagai hal yang dianggap normal, bahkan sampai menjangkau institusi pendidikan. Kekerasan ini bukan hanya terjadi di luar lingkungan sekolah, tetapi sering kali terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari, sehingga menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
“Contoh guru memukul murid atau sebaliknya adalah kasus yang sering ditemui,” ujarnya. “Ketika hal ini dipermasalahkan, respon biasanya adalah, ‘dulu juga begitu.’ Poin penting adalah bagaimana kita dapat menghentikan rantai kekerasan ini,” lanjutnya.
Menanggapi buku yang ditulis oleh seorang antropolog Amerika Serikat, Bonnie sepakat bahwa usaha mencari keadilan sering tersandung pada penyangkalan yang dilakukan oleh negara. “Kebenaran akademik mengenai peristiwa tahun 1965 sudah banyak dibahas, tetapi masyarakat masih cenderung mengabaikannya,” katanya.
Dia menegaskan bahwa penyangkalan terus terjadi, bahkan pada kasus-kasus terbaru seperti pemerkosaan massal. “Pola ini merupakan bagian dari modus denial yang terus diproduksi. Ini perlu diatasi agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus yang sama,” ujar Bonnie.
Bonnie juga memberikan tanggapannya terhadap bab khusus dalam buku yang mengulas tentang peranan sastra. Dia menekankan bahwa sastra memiliki kemampuan untuk menyentuh isu-isu yang sering diabaikan dan bisa menjadi alat untuk refleksi sosial.
Upaya konkret yang sedang dia kawal di parlemen adalah memasukkan sastra sebagai pelajaran wajib dalam Revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. “Kami dari Fraksi PDI Perjuangan berusaha untuk menjadikan sejarah dan sastra sebagai pelajaran yang wajib diajarkan,” kata Bonnie.
“Ini penting mengingat tingkat literasi kita masih rendah. Salah satu cara untuk meningkatkan literasi adalah dengan menjadikan sastra sebagai salah satu mata pelajaran utama,” tambahnya. “Diperlukan kerja sama dari banyak pihak, tidak hanya dari legislator tetapi juga dari masyarakat luas untuk mengawal proses ini,” sambungnya.
Pentingnya Menangani Kekerasan dalam Pendidikan
Kekerasan dalam pendidikan sering kali dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran. Namun, hal ini harus dipertanyakan kembali agar tidak menjadi budaya yang mengakar dalam masyarakat.
Pelajaran dari kekerasan yang terjadi di sekolah menggambarkan betapa pentingnya intervensi yang tepat. Tidak cukup hanya mengandalkan sistem yang ada, tetapi perlunya pendekatan yang lebih manusiawi dan memadai.
Shapa sikap proaktif bisa diawali dengan pendidikan karakter yang mengedepankan nilai toleransi dan penghormatan kepada sesama. Melalui pendidikan yang berbasis nilai-nilai ini, diharapkan akan tercipta lingkungan yang lebih sehat bagi siswa.
Pendidikan tidak seharusnya menjadi tempat di mana kekerasan diterima, melainkan harus menjadi ruang aman untuk belajar dan berkembang. Dengan demikian, pengembangan program pendidikan yang lebih inklusif dan merangkul semua aspek sangatlah penting.
Perubahan tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi dimulai dari kebijakan yang jelas dan komitmen dari semua pihak terkait untuk membangun lingkungan sekolah yang bebas dari kekerasan.
Peranan Sastra dalam Membangun Kesadaran Sosial
Sastra dapat berfungsi sebagai jembatan untuk memahami berbagai isu sosial yang kompleks. Melalui karya sastra, pembaca dapat merasakan dan memahami perspektif yang berbeda dari berbagai golongan masyarakat.
Teknik bercerita dalam sastra sering kali mampu menyampaikan pesan-pesan kritis tanpa menimbulkan ketidaknyamanan yang berlebihan. Ini membuat sastra menjadi alat yang sangat efektif dalam pendidikan dan kesadaran sosial.
Melalui pembelajaran sastra, siswa tidak hanya belajar tentang teks, tetapi juga belajar empati dan menghargai keberagaman. Hal ini mendukung pembentukan karakter yang baik dan sikap toleran terhadap perbedaan.
Promosi sastra di jenjang pendidikan dasar dan menengah sangat penting untuk meningkatkan minat baca. Dengan meningkatkan minat baca, diharapkan akan ada penurunan angka kekerasan yang disebabkan oleh kurangnya pemahaman sosio-kultural.
Sastra juga dapat menjadi medium untuk berdialog mengenai isu-isu sensitif yang sering kali ditutupi oleh masyarakat. Ini penting untuk membangun ruang diskusi yang terbuka dan konstruktif.
Strategi Menghadapi Penyangkalan yang Dihasilkan oleh Negara
Penyangkalan terhadap kebenaran sejarah merupakan isu yang kompleks dan memerlukan perhatian lebih. Kebijakan pemerintah yang tidak transparan hanya akan menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi.
Masyarakat perlu didorong untuk lebih kritis dan sadar akan hak-hak mereka. Memahami sejarah adalah salah satu cara untuk membangun kesadaran ini dan mencegah terulangnya kesalahan di masa lalu.
Dialog antara pemerintah dan masyarakat perlu ditingkatkan untuk menghindari kesalahpahaman yang dapat berujung pada konflik. Adanya platform yang memungkinkan masyarakat untuk menyuarakan pendapat adalah kunci untuk menciptakan dialog yang konstruktif.
Kampanye pendidikan tentang sejarah yang akurat dapat menjadi langkah awal yang baik. Program ini bisa memperkenalkan narasi yang lebih inklusif, sehingga lebih banyak suara yang terwakili dan diakui dalam konteks sejarah.
Kesadaran bahwa gegap gempita pada masa lalu tidak bisa dianggap enteng akan membantu masyarakat untuk lebih menghargai nilai-nilai perdamaian dan persatuan di masa depan.













