Keamanan dan kepatuhan dalam pengantaran makanan menjadi fokus utama bagi Badan Gizi Nasional (BGN) setelah insiden tragis yang terjadi pada 11 Desember 2025. Dalam kejadian tersebut, sebuah mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) menabrak sekelompok siswa di Jakarta Utara, menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran di kalangan orang tua dan pengurus sekolah.
Untuk menghindari terulangnya kejadian serupa, BGN menerapkan serangkaian perubahan pada protokol pengantaran. Salah satu aturan penting adalah pengantar makanan tidak diizinkan masuk ke pekarangan sekolah, melainkan hanya boleh mengantar hingga di luar pagar sekolah.
Perubahan ini diharapkan dapat menjaga keselamatan anak-anak yang sering berada di sekitar area sekolah, terutama saat jam-jam sibuk. Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik, Nanik Sudaryati Deyang, menekankan pentingnya langkah ini dalam sosialisasi dan penguatan tata kelola MBG yang berlangsung di Lumajang.
“Memastikan keselamatan anak-anak adalah yang utama,” ujar Nanik. Sekolah harus menerapkan SOP baru agar tidak terjadi insiden yang membahayakan siswa di masa mendatang.
Regulasi ini tidak hanya mengatur lokasi pengantaran, tetapi juga menekankan kualifikasi sopir yang bertugas. Tenaga yang mengantar makanan harus memiliki kualifikasi dan keterampilan yang memadai untuk menjamin keselamatan saat berkendara.
Pengetatan SOP Pengantaran Makanan Bergizi di Sekolah
Penerapan SOP baru ini merupakan respon nyata yang dilakukan oleh BGN untuk meningkatkan keamanan. Pengemudi mobil pengantar MBG diwajibkan memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) yang sah dan jelas jalur pelatihan yang tepat.
Nanik menjelaskan bahwa pengemudi tidak hanya perlu memiliki SIM A, tetapi juga harus sudah berpengalaman dalam mengemudikan berbagai jenis mobil, baik matic maupun manual. Hal ini bertujuan agar pengemudi memahami karakteristik kendaraan yang mereka bawa.
Penerapan aturan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko insiden yang merugikan. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama dalam setiap proses pengantaran makanan sehat.
Memastikan sopir bertanggung jawab dan terlatih adalah langkah kritis dalam pembentukan lingkungan sekolah yang aman. BGN berkomitmen untuk meninjau dan memperbaharui SOP secara berkala hingga sistem pengantaran benar-benar aman.
Dengan melibatkan pihak sekolah dan orang tua, sosialisasi mengenai standar baru ini diharapkan berjalan efektif. Seluruh pihak harus memahami peran dan tanggung jawab masing-masing agar anak-anak dapat menikmati makanan bergizi dengan aman.
Keputusan dan Tindakan untuk Mencegah Insiden Serupa
Usai kejadian di Cilincing, BGN berinisiatif untuk mengevaluasi semua regulasi yang terkait dengan program Makan Bergizi Gratis. Tindakan ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan dan keselamatan anak-anak di sekolah.
Di dalam sosialisasi tersebut, Nanik menyatakan bahwa meski ada aturan baru yang diterapkan, makanan bergizi tetap harus sampai kepada siswa. Pihak sekolah dan BGN akan bekerja sama untuk memastikan hal ini berlangsung tanpa hambatan.
Penting bagi setiap lembaga pendidikan untuk mendukung kebijakan ini dengan menerapkan protokol keselamatan. Kerjasama antara BGN, sekolah, dan orang tua adalah kunci untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak.
Selanjutnya, BGN akan melakukan pelatihan bagi petugas dan sopir yang terlibat dalam program MBG. Hal ini bertujuan untuk memastikan semua pihak memahami dan melaksanakan protokol dengan baik.
Langkah-langkah preventif yang diambil diharapkan dapat mengurangi risiko yang ada, sehingga insiden serupa tidak terulang lagi. Ini juga menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan berkendara di sekitar area sekolah.
Pentingnya Keselamatan Anakan Sebagai Prioritas Utama
Kesehatan dan keselamatan anak-anak adalah prioritas utama dalam pendidikan. Setiap insiden yang melibatkan anak-anak harus menjadi perhatian penting bagi semua pihak, terutama dalam program yang menyangkut gizi dan kesehatan mereka.
Peningkatan kesadaran tentang keselamatan berkendara di sekitar sekolah perlu dilakukan secara simultan. Sosialisasi terhadap orang tua dan komunitas mengenai SOP baru ini sangatlah penting untuk dilakukan secara konsisten.
Sekolah dapat berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan SOP ini. Pengaturan lalu lintas dan pemantauan aktivitas siswa di area sekolah juga perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan mereka.
Dari semua langkah yang diambil, harapannya adalah terciptanya suatu sistem yang tidak hanya fokus pada kesehatan anak, tetapi juga menjamin keamanan saat mereka berada di lingkungan sekolah. Kepercayaan orang tua terhadap program ini harus dipulihkan.
Dengan kolaborasi erat antara lembaga pemerintah, sekolah, dan masyarakat, kita dapat bersama-sama menciptakan sistem pengantaran makanan yang lebih aman dan efektif. Inisiatif ini diharapkan menjadi contoh bagi program-program lain yang berkaitan dengan kesejahteraan anak.













