Dewan Pariwisata Singapura (STB) mengungkapkan bahwa pendapatan dari sektor pariwisata telah mencapai rekor yang mengesankan yaitu 23,9 miliar dolar Singapura (sekitar Rp315,2 triliun). Dalam hal ini, Indonesia, bersama dengan China daratan dan Australia, menjadi tiga negara dengan kontribusi terbesar dalam pendapatan pariwisata tersebut.
Pengumuman angka penerimaan pariwisata untuk keseluruhan tahun 2025 akan disampaikan pada kuartal kedua tahun ini. Pertumbuhan yang didorong oleh sektor wisata, hiburan, permainan, serta makanan dan minuman mencatatkan peningkatan sebesar 15 persen, menunjukkan tren positif pada sektor pariwisata Singapura.
Sektor pariwisata Singapura menunjukkan pertumbuhan yang stabil, dengan peningkatan penerimaan pariwisata mencapai 6,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya antara Januari hingga September 2025. Hal ini menunjukkan bahwa negara tersebut berada pada jalur yang tepat untuk melampaui proyeksi penerimaan pariwisata tahun ini.
Menurut STB, kinerja yang diraih antara Januari hingga September menempatkan negara itu pada jalur perkembangan yang positif untuk mencapai proyeksi total penerimaan pariwisata yaitu antara 29 hingga 30,5 miliar dolar Singapura. Pencapaian yang mengesankan ini memberikan keyakinan akan masa depan sektor pariwisata di Singapura.
Peningkatan Sektor Pariwisata dan Kontribusinya
STB mencatat bahwa kontribusi dari negara penghasil pendapatan pariwisata terbesar adalah China daratan, Indonesia, dan Australia, dengan masing-masing menyumbang angka signifikan. China daratan berkontribusi sebanyak S$3,68 miliar, diikuti oleh Indonesia dengan S$2,09 miliar, dan Australia dengan S$1,54 miliar.
Penting untuk dicatat bahwa angka-angka ini tidak termasuk pendapatan dari kategori wisata, hiburan, dan permainan, yang semakin melengkapi gambaran besar sektor pariwisata. Kenaikan ini menunjukkan adanya potensi besar dalam industri pariwisata yang menunjukkan pertumbuhan tahunan yang stabil.
Wisatawan dari China daratan menunjukkan tanda-tanda pengeluaran yang lebih besar, dengan peningkatan tiga persen dalam pengeluaran dibandingkan tiga kuartal pertama tahun 2024. Peningkatan ini terutama terlihat dalam kategori pengeluaran untuk makanan dan minuman, yang meningkat sebesar 19 persen.
Dengan kondisi seperti ini, Singapura berhasil menarik perhatian dari berbagai negara, menciptakan peluang bagi para pemangku kepentingan di industri pariwisata. Peningkatan ini tidak hanya menguntungkan Singapura, tetapi juga membantu negara-negara tetangga dalam meningkatkan konektivitas dan kolaborasi.
Kedatangan Pengunjung Internasional yang Stabil
Pengunjung internasional yang datang ke Singapura pada tahun 2025 mengalami peningkatan sebesar 2,3 persen dibandingkan tahun lalu, dengan jumlah total mencapai 16,9 juta pengunjung. Dari angka tersebut, kontribusi terbesar tetap berasal dari tiga negara yaitu Tiongkok Daratan, Indonesia, dan Malaysia.
Dari total kedatangan, Tiongkok Daratan menyumbang 3,1 juta pengunjung, diikuti oleh Indonesia dengan 2,4 juta dan Malaysia dengan 1,3 juta pengunjung. Ini menunjukkan bahwa minat untuk berkunjung ke Singapura terus meningkat, terutama dari negara-negara yang berdekatan.
Pangkalan pengunjung yang beragam di sektor pariwisata dapat menjadi fondasi yang kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan. Hal ini berpotensi mendorong ekonomi lokal dan memberikan berbagai manfaat lainnya bagi masyarakat sekitar.
Kemajuan dalam infrastruktur transportasi dan promosi destinasi wisata yang menarik juga menjadi faktor pendorong dalam meningkatkan kedatangan pengunjung asing. Selain itu, Singapura juga berupaya untuk menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi para wisatawan.
Strategi Masa Depan untuk Sektor Pariwisata Singapura
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, strategi baru perlu diterapkan oleh STB dan pemangku kepentingan lainnya. Focusing on pengalaman wisata yang unik dan inovatif dapat menjadi kunci untuk menarik lebih banyak kunjungan di masa depan.
Inisiatif untuk meningkatkan kerjasama internasional dalam sektor pariwisata juga sangat penting. Hal ini dapat dilakukan melalui promosi bersama dan kolaborasi dalam penyelenggaraan acara wisata yang lebih besar.
STB juga perlu mempertimbangkan pengembangan produk wisata baru yang sesuai dengan selera dan tren pasar. Misalnya, wisata berbasis pengalaman, seperti wisata kuliner, wisata alam, dan wisata edukasi, bisa menjadi pilihan yang menarik.
Berkelanjutan dalam mengembangkan fasilitas dan layanan bagi wisatawan harus tetap menjadi fokus. Mengintegrasikan teknologi dalam layanan pariwisata juga dapat menambah daya tarik bagi pengunjung yang lebih muda dan peka terhadap perubahan.













