Pada bulan November 2025, pasar rumah sekunder di Indonesia menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Penurunan pertumbuhan tahunan, disertai dengan berkurangnya suplai rumah di sektor ini, menjadi penggerak utama kondisi ini.
Dari hasil laporan bulanan yang diterbitkan, secara keseluruhan harga rumah tercatat mengalami kontraksi sebesar 0,2 persen. Sementara itu, dua kota, Bandung dan Jakarta, mencatatkan sedikit kenaikan harga meskipun tren secara umum menunjukkan stagnasi.
Kondisi ini menciptakan kekhawatiran di kalangan konsumen serta pemilik properti. Banyak yang memutuskan untuk bersikap menunggu dan melihat terhadap pergerakan suku bunga dan arah harga di masa depan.
Fase penyesuaian ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk inflasi dan perlambatan ekonomi. Grafik yang menunjukkan penyediaan rumah menunjukkan penurunan signifikan, memperlihatkan kehati-hatian para pemilik dalam menjual aset mereka.
Inovasi dalam Penataan Pasar Properti di Indonesia
Pergeseran dalam dinamika pasar properti di Indonesia terlihat jelas di beberapa kota besar. Bandung menjadi satu dari dua kota yang mencatatkan pertumbuhan harga, dengan peningkatan sebesar 1,0 persen.
Jakarta mengikuti dengan kenaikan lebih modest, sebesar 0,2 persen. Namun, di sisi lain, banyak kota besar lainnya menunjukkan tren yang menurun atau bahkan stagnan.
Meski demikian, masih ada harapan di beberapa kota seperti Denpasar yang, pada tahun ini, menunjukkan pertumbuhan tahunan harga rumah tertinggi di angka 3,4 persen. Kenaikan ini kontras dengan nilai inflasi yang berada di angka 2,72 persen secara tahunan.
Hal ini menunjukkan bahwa Denpasar mampu menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan kondisi ini, para investor dan konsumen tetap memperhatikan potensi yang ada di kota-kota tersebut.
Pola Permintaan dan Penawaran di Pasar Properti
Salah satu hal menarik di pasar properti saat ini adalah pergeseran permintaan. Berdasarkan data, Tangerang menjadi lokasi paling populer dalam pencarian hunian. Ini tercermin dari kontribusi pencarian yang mencapai 14,3 persen dari total nasional.
Kota-kota lain seperti Jakarta Selatan dan Jakarta Barat juga menempati posisi yang signifikan. Ini mencerminkan pergeseran preferensi konsumen ke wilayah yang lebih terjangkau namun tetap strategis.
Selain itu, segmen rumah dengan ukuran kecil di Jakarta Pusat menunjukkan kenaikan harga yang signifikan. Kenaikan median harga mencapai 28 persen, menarik perhatian banyak pembeli potensial.
Tren ini menunjukkan bahwa meskipun ada stagnasi secara umum, segmen tertentu masih mengalami pertumbuhan. Hal ini menandakan bahwa preferensi konsumen beralih, mencari nilai lebih di berbagai area.
Dampak Ekonomi Makro dan Kebijakan Suku Bunga Terhadap Pasar
Di sisi makroekonomi, suku bunga acuan tetap dipertahankan di tingkat 4,75 persen. Kebijakan ini diambil untuk mendorong pertumbuhan serta menjaga stabilitas nilai mata uang.
Meskipun ada penurunan inflasi, daya beli masyarakat masih belum sepenuhnya pulih. Konsumen tampak masih hati-hati dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi di sektor properti.
Sebagaimana diungkapkan oleh para ahli, meskipun pasar menunjukkan tanda stagnasi, ada banyak faktor eksternal yang memengaruhi. Oleh karena itu, pengamat pasar sedang menunggu adanya katalis baru yang dapat memicu pertumbuhan di sektor ini.
Di tengah ketidakpastian ini, industri properti memerlukan analisis yang mendalam dan pemantauan berkala untuk memahami dinamika yang terjadi. Ini penting baik bagi konsumen maupun pemangku kepentingan untuk mengambil keputusan yang tepat.











