Keberlanjutan kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi bisnis perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa banyak organisasi memahami pentingnya mengintegrasikan keberlanjutan dalam operasional mereka untuk mencapai tujuan jangka panjang dan menghadapi tantangan yang ada.
Dalam konteks ini, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi modern, termasuk kecerdasan buatan (AI), memainkan peran vital dalam memperkuat upaya keberlanjutan. Tujuan dari penggunaan AI bukan hanya untuk mematuhi regulasi, tetapi juga untuk menciptakan efisiensi dan daya saing yang lebih baik dalam dunia yang semakin kompetitif.
Salah satu studi yang sangat menyoroti temuannya adalah laporan yang dilakukan oleh Schneider Electric, yang menyelidiki bagaimana sektor bisnis menanggapi dinamika ekonomi dan tantangan geopolitik. Dalam survei tersebut, diperoleh data menarik bahwa hampir setengah dari perusahaan di Indonesia telah menerapkan teknologi AI untuk meningkatkan target keberlanjutan mereka.
Melalui survei tahunan yang melibatkan ribuan pemimpin bisnis di sembilan negara Asia, terlihat bahwa keberlanjutan tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan sebagai peluang strategis. Hal ini memunculkan pandangan baru tentang bagaimana keberlanjutan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan bisnis yang signifikan.
Pentingnya Kecerdasan Buatan dalam Mendukung Keberlanjutan
Salah satu poin menonjol dari laporan tersebut adalah adanya peningkatan besar dalam adopsi teknologi digital, terutama AI. Dalam banyak kasus, teknologi ini dilihat sebagai enabler yang mendukung strategi keberlanjutan yang lebih luas di berbagai perusahaan.
Di Indonesia, sekitar 48% dari perusahaan yang disurvei telah mengimplementasikan solusi berbasis AI. Ini termasuk otomasi pengumpulan data keberlanjutan, serta optimasi konsumsi energi yang lebih efisien. Langkah ini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana perusahaan merespons dengan bijak terhadap tantangan energi yang semakin kompleks.
AI berperan penting dalam meningkatkan efisiensi proses dan desain produk. Dengan memanfaatkan teknologi ini, perusahaan dapat mengurangi biaya dan mengelola risiko energi yang menjadi perhatian utama banyak organisasi saat ini. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat posisi mereka di pasar yang semakin berfluktuasi.
Survei tersebut juga menunjukkan bahwa para pemimpin perusahaan semakin menyadari dampak positif dari keberlanjutan terhadap citra dan reputasi perusahaan. Data menunjukkan bahwa pada 2025, sebagian besar CEO memiliki pandangan yang lebih optimis mengenai potensi keberlanjutan dalam menciptakan peluang bisnis baru.
Menghadapi Tantangan Ekonomi dan Geopolitik yang Kompleks
Walaupun adopsi teknologi semakin meningkat, dunia usaha Indonesia masih harus menghadapi berbagai tantangan struktural. Ketidakpastian ekonomi, serta dinamika kebijakan dan geopolitik, menjadi faktor utama yang menghambat investasi di sektor keberlanjutan.
Menurut data yang dikumpulkan, hampir dua dari lima perusahaan merasa bahwa tantangan dari dinamika geopolitik global menghambat kemajuan mereka dalam keberlanjutan. Hal ini menuntut setiap perusahaan untuk meninjau kesiapan regulasi dan insentif yang ada untuk memastikan bahwa rencana keberlanjutan dapat diwujudkan dengan efektif.
Meski terdapat berbagai hambatan, tren menunjukkan adanya penurunan dalam birokrasi dan keterbatasan data pasar. Ini mengindikasikan bahwa iklim investasi semakin membaik, dan perusahaan-perusahaan mulai melihat peluang baru dalam menerapkan keberlanjutan. Peningkatan ini menjadi sinyal positif bagi masa depan investasi hijau di Indonesia.
Laporan tersebut juga mencatat adanya kesenjangan antara ambisi keberlanjutan dan implementasi di lapangan. Meski banyak perusahaan memiliki target keberlanjutan yang jelas, sebagian besar belum menjalankan strategi yang komprehensif dan terukur. Ini menunjukkan tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Strategi Digitalisasi untuk Investasi Masa Depan
Di masa mendatang, fokus terhadap digitalisasi tetap menjadi prioritas utama bagi dunia usaha. Sekitar 36-40% perusahaan berencana menginvestasikan minimal satu juta dolar dalam inisiatif keberlanjutan selama dua tahun ke depan, dengan perhatian khusus pada digitalisasi sistem dan efisiensi energi.
Fokus lainnya adalah pada keberlanjutan rantai pasok dan penerapan teknologi hijau dalam upaya mengurangi jejak karbon dari pusat data. Langkah ini menunjukkan kesadaran yang semakin meningkat akan pentingnya teknologi dalam mendukung tujuan keberlanjutan yang lebih luas dalam bisnis.
Perusahaan di sektor pusat data, utilitas, dan jasa keuangan menjadi pionir dalam mengintegrasikan teknologi untuk memenuhi tingginya permintaan energi dan komputasi. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, mereka tidak hanya meningkatkan kapasitas operasional, tetapi juga berkontribusi pada upaya keberlanjutan secara keseluruhan.
Pentingnya pendekatan yang berbasis digitalisasi dan AI semakin disadari sebagai langkah strategis jangka panjang dalam menghadapi perubahan iklim yang cepat. Pendiri dan pemimpin bisnis memahami bahwa perusahaan yang bersikap proaktif dalam keberlanjutan memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan.
Survei yang mengangkat tema Green Impact Gap 2025 menggarisbawahi bahwa perusahaan yang bergerak lebih awal dalam mendorong keberlanjutan tidak hanya lebih siap dalam menghadapi krisis, tetapi juga memiliki potensi yang lebih besar untuk unggul dalam persaingan pasar di tahun-tahun mendatang.











