Di bawah sinar matahari yang menyengat, Jumariah merasakan kegembiraan dan haru saat ia melangkah ke dalam pelataran Masjidil Haram. Pengalaman ini menjadi momen yang telah ia nantikan selama bertahun-tahun, sebuah perjalanan spiritual yang mengubah hidupnya selamanya.
Bagi Jumariah, perempuan lanjut usia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, perjalanan ini bukan sekadar ritual; itu adalah puncak dari harapan dan impian yang ia rawat dalam kesunyian. Sejak ditinggal suaminya, mimpi ini menjadi penopang semangat dalam menjalani hidup sebatang kara.
Setiap langkahnya terasa penuh makna saat ia menghampiri bangunan megah yang dikenal sebagai Ka’bah. Air mata kebahagiaan tumpah saat ia menyaksikan simbol ibadah umat Muslim berdiri tegak di depan matanya.
Pergulangan Hidup dan Rindu yang Terpendam
Jumariah bukan hanya seorang jemaah haji; dia adalah simbol keteguhan hati. Di kampung halamannya, ia dikenal sebagai perempuan tangguh yang menjalani hidup dengan penuh kesederhanaan dan ketekunan. Meskipun usianya sudah menginjak tujuh puluhan, semangatnya tidak pernah pudar.
Kesibukannya dimulai setiap pagi, memberi makan ayam dan merawat kebun, menandakan rutinitas yang tak pernah lekang oleh waktu. Dalam kesendirian, ia merawat kebun dan sawah kecil miliknya dengan sepenuh hati.
“Saya tanam sendiri, rawat sendiri, panen sendiri,” ujarnya dengan senyum, memancarkan kebanggaan yang mendalam. Kebun dan sawahnya bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga simbol perjuangannya.
Menabung dengan Harapan yang Tinggi
Tanpa kemampuan membaca dan menulis, Jumariah tetap memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan impian pergi haji. Selama dua dekade, ia menyimpan uang hasil jerih payahnya di dalam sebuah ember, dengan harapan bisa menunaikan ibadah yang sangat diimpikannya.
Setiap uang yang didapatnya, bahkan yang sedikit, ia simpan dengan teliti. “Kalau saya dapat Rp110 ribu, saya simpan Rp50 ribu,” ucapnya, dengan raut wajah yang tulus. Metode ini menjadi cara efektifnya untuk mengumpulkan dana untuk ongkos haji.
Akhirnya, setelah sepuluh tahun menabung, isi embernya mencapai Rp25 juta. Bersama kemenakan, ia memberanikan diri untuk mendaftar haji, suatu langkah besar yang memberinya semangat baru untuk menggeluti proses persiapannya.
Persiapan Menuju Ka’bah dan Pembelajaran Berharga
Setelah namanya terdaftar sebagai jemaah haji, semangat Jumariah meningkat. Jarak yang harus dijalani untuk menemui lokasi bimbingan ibadah tidak menjadi halangan baginya. Lebih dari 80 sesi manasik haji ia ikuti tanpa absen.
Dalam setiap sesi, Jumariah duduk di barisan depan, menarasikan semangat untuk belajar dan beribadah. Setiap arahan yang diberikan selalu ia catat dalam benak, sebagai persiapan untuk menghadap Sang Pencipta di Tanah Suci.
Moment penting bagi Jumariah adalah saat ia bersiap untuk wukuf di Padang Arafah. Di sanalah, ia merasa semua harapannya akan terjawab dengan berbicara langsung kepada Tuhan, sebuah ritual yang telah ia impikan selamanya.
Perjalanan yang Membangkitkan Inspirasi
Kisah Jumariah tidak hanya menginspirasi orang-orang di sekitarnya, tetapi juga menarik perhatian Kementerian Haji dan Umrah setempat. Perjuangannya diwujudkan dalam sebuah dokumenter yang mengisahkan hidupnya dengan sederhana namun penuh makna.
Ketua Kloter UPG-14, Sitti Hawaisyah, merasa tergerak untuk mengajukan cerita Jumariah ke Kementerian Haji Arab Saudi. “Dia hidup sendiri, di daerah terpencil, namun sangat menginspirasi,” tambahnya.
Dalam waktu singkat, tim dokumenter berhasil merekam kehidupan sehari-hari Jumariah. Video ini kini menjadi bagian dari promosi internasional Kerajaan Arab Saudi menjelang musim haji, menempatkan Jumariah sebagai ikon kebangkitan semangat umat.
















