Kenaikan pembatalan pembelian rumah di Jabodebek-Banten menjadi perhatian serius bagi pasar properti Indonesia. Pada kuartal II-2026, data menunjukkan bahwa tingkat pembatalan mencapai 17,73 persen, sebuah angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat 17,28 persen. Hal ini menandakan adanya tantangan yang signifikan bagi para pengembang dan calon pembeli di wilayah tersebut.
Situasi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan sebagai bagian dari tren perlambatan yang lebih luas di pasar perumahan. Penjualan rumah kini mulai beralih menuju segmen harga yang lebih terjangkau, sementara tantangan terkait daya beli serta akses pembiayaan terus membayangi pasar.
Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch, mengemukakan bahwa pembatalan pembelian rumah disebabkan oleh berbagai faktor. Di antara penyebab tersebut adalah kualitas kredit konsumen yang tidak memenuhi syarat bank dan keputusan pembatalan dari para calon pembeli itu sendiri.
Dampak Pembatalan di Bekasi dan Tangerang
Pihak Indonesia Property Watch menyoroti Bekasi dan Tangerang sebagai dua kawasan yang paling terdampak oleh pembatalan transaksi. Di Bekasi, meskipun volume penjualan relatif stabil, nilai transaksi tertekan oleh promosi yang semakin agresif dari para pengembang besar. Persaingan yang ketat semakin memperburuk kondisi di pasar perumahan.
Situasi di Tangerang juga tidak kalah menantang, dengan ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan produk rumah. Pengembang skala menengah di daerah ini terpaksa bersaing dengan proyek-proyek besar yang menawarkan daya saing lebih tinggi. Hal ini menciptakan kebingungan di kalangan calon pembeli yang kini memiliki lebih banyak pilihan.
Mengenai perkembangan ini, calon konsumen kini seolah dihadapkan pada lebih banyak alternatif, namun proses pembiayaan menjadi semakin ketat. Hal ini menciptakan tantangan tambahan dalam pengambilan keputusan pembelian rumah.
Perpindahan Segmen Harga di Pasar Perumahan
Perubahan pola permintaan juga cukup menarik untuk dicermati. Laporan terbaru menunjukkan bahwa minat terhadap rumah di bawah harga Rp500 juta semakin meningkat, khususnya pada rentang Rp300 juta hingga Rp500 juta. Sementara itu, segmen harga Rp500 juta hingga Rp1 miliar mulai kehilangan daya tarik dalam beberapa bulan terakhir.
Ali Tranghanda menyatakan bahwa pergeseran ini mencerminkan batas psikologis dalam kemampuan beli masyarakat. Tantangan dalam mencapai segmen menengah yang lebih tinggi, di atas Rp1 miliar, juga menjadi faktor penentu perilaku pembeli saat ini.
Artinya, semakin banyak konsumen yang berfokus pada rumah harga terjangkau, sementara mereka yang memiliki daya beli lebih baik cenderung langsung mencari properti yang lebih mahal di kisaran Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Hal ini menggambarkan dinamika perubahan prilaku pasar saat ini.
Prediksi Tren Pasar Properti ke Depan
Dengan kondisi pasar saat ini, Indonesia Property Watch memperkirakan bahwa tidak akan terjadi perubahan signifikan dalam waktu dekat. CEO Ali Tranghanda menegaskan bahwa tren pelemahan di pasar perumahan akan terus berlanjut di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih melanda.
Sebagian pengembang kini mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka, termasuk menunda peluncuran proyek baru dan memperlambat pembangunan yang ada. Hal ini diakibatkan oleh meningkatnya biaya konstruksi dan tantangan yang dihadapi dalam memasuki pasar yang kompetitif.
Di tengah situasi tersebut, program insentif seperti PPN Ditanggung Pemerintah diharapkan dapat membantu menjaga penjualan rumah di pasar primer. Menurut Ali, program ini masih dinilai cukup efektif dalam membantu para pengembang dan menjaga minat masyarakat untuk membeli rumah.
















