Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru-baru ini melaporkan adanya total 4.258 aktivitas gempa susulan setelah terjadinya gempa bumi utama berkekuatan M7,7 di Flores, Nusa Tenggara Timur, pada tanggal 15 Agustus. Aktivitas ini terpantau hingga pagi hari Jumat, 21 Agustus, pukul 05.00 WIB, menunjukkan dampak signifikan terhadap wilayah sekitar.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa sebanyak 118 dari total kejadian gempa tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, dengan 31 di antaranya memiliki magnitudo di atas M5,0. Ini menunjukkan bahwa meski gempa utama telah terjadi, perhatian terhadap aktivitas susulan tetap sangat penting bagi keamanan masyarakat.
Wijayanto juga memperkirakan bahwa rangkaian gempa susulan ini akan terus berlanjut selama 3 hingga 4 minggu ke depan. Pada tahap ini, pola temporal aktivitas gempanya tergolong kompleks dan belum menunjukkan kejelasan yang sederhana, sehingga memerlukan pengamatan yang hati-hati.
Aktivitas Gempa Susulan dan Polanya yang Mengkhawatirkan
“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama tercatat masih tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda penurunan signifikan,” ungkap Wijayanto. Sejak gempa utama, angka kejadian per hari bervariasi, dengan puncak tertinggi tercatat pada hari kedua yang mencapai 746 kasus.
Pada hari-hari berikutnya, jumlah kejadian tersebut berfluktuasi mulai dari 668, 649, hingga 627 kali, tetapi kembali meningkat menjadi 802 kejadian pada hari keenam. Ini menunjukkan bahwa meski intensitas saat itu mulai berkurang, potensi serangan lebih lanjut tetap ada.
BMKG juga mencatat sejumlah guncangan berintensitas IV-VI MMI yang dirasakan kuat oleh penduduk setempat. Pada 19 Agustus, guncangan mencatat M5,6, dan pada 20 Agustus, terjadi dua guncangan signifikan dengan magnitudo masing-masing M5,8.
Kerusakan yang Ditimbulkan oleh Gempa dan Langkah Mitigasi
Gempa-gempa signifikan tersebut tidak hanya mengganggu keseharian warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur. Beberapa bangunan dan jembatan yang terdampak mengalami kerusakan serius, dan ada juga laporan mengenai tanah longsor yang terjadi di beberapa lokasi.
Wijayanto menyebutkan bahwa hasil pemantauan menunjukkan aktivitas gempa susulan ini tidak tersebar merata, melainkan konsentrasi terbagi dalam beberapa klaster. Klaster utama muncul di sekitar sumber gempa M7,7 di utara Nagekeo dan mengikuti arah Flores Back-arc Thrust.
Lebih lanjut, zona yang mengalami guncangan lanjutan ditemukan di bagian barat sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai. Pemantauan seismisitas harian mengindikasikan pergeseran fokus aktivitas yang dinamis.
Kesimpulan dan Imbauan kepada Masyarakat
BMKG meminta masyarakat untuk selalu waspada dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak berdasar terkait gempa. Mereka disarankan untuk menjauh dari bangunan yang mengalami keretakan dan selalu memperhatikan potensi gempa susulan yang mungkin occur.
Penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan langkah-langkah pencegahan, seperti mencari lokasi aman saat terjadi guncangan. Selain itu, BMKG akan memberikan informasi terkait aktivitas gempa secara rutin setiap hari dua kali, yakni di pagi dan sore hari.
Melalui langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat dapat menjaga keselamatan dan meminimalisasi risiko yang diakibatkan oleh aktivitas seismik yang masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Masyarakat diimbau untuk proaktif dalam memantau informasi terbaru dari pihak berwenang.
















