Erupsi Gunung Sinabung di Sumatera Utara telah mengganggu operasional penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu (KNO). Gangguan ini tidak hanya mempengaruhi penerbangan langsung dari dan ke Kualanamu, tetapi juga berimbas pada rute penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK).
Akibat erupsi ini, Bandara Kualanamu terpaksa menutup operasionalnya. Penutupan ini berpotensi menyebabkan keterlambatan, pembatalan, dan pengalihan penerbangan, yang tentunya mengganggu jadwal perjalanan banyak penumpang.
Koordinasi antara manajemen Bandara Soekarno-Hatta dan maskapai penerbangan terus dilakukan. Upaya ini bertujuan untuk memantau kondisi penerbangan serta mengantisipasi dampak dari erupsi yang terjadi.
“Kami terus berhubungan dengan semua pihak untuk memastikan bahwa pelayanan kepada penumpang tetap berjalan,” ujar seorang perwakilan dari bandara. Ia menegaskan pentingnya komunikasi yang baik dalam situasi seperti ini.
Penutupan Bandara Kualanamu dan Dampaknya pada Penerbangan
Pada saat penutupan operasional, Bandara Kualanamu mengalami berbagai pembatalan penerbangan. Rute penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Kualanamu dan sebaliknya menjadi paling terdampak. Fokus utama adalah meminimalkan ketidaknyamanan bagi penumpang yang telah melakukan reservasi.
Perwakilan dari Bandara Soekarno-Hatta menambahkan, “Sebanyak 15 penerbangan yang sudah terjadwal terpaksa dibatalkan akibat kondisi force majeure ini.” Pembatalan tersebut sendiri berdampak pada ribuan penumpang yang mengandalkan layanan penerbangan ini.
Selain pembatalan, sejumlah penerbangan lainnya juga mengalami keterlambatan. Menurut laporan, terdapat 14 penerbangan yang tercatat mengalami delay karena situasi ini. Penumpang diimbau untuk proaktif dalam memantau status penerbangan mereka.
Koordinasi Antara Maskapai dan Stakeholder Terkait
Pihak manajemen terus berupaya menjaga komunikasi yang erat dengan berbagai maskapai. Konferensi dan pembicaraan rutin diadakan untuk mengumpulkan informasi terbaru mengenai kondisi Gunung Sinabung serta dampaknya pada operasional bandara.
“Kami berkomitmen untuk menjaga kenyamanan dan keamanan penumpang. Semua langkah peningkatan komunikasi dilakukan untuk mencegah kebingungan di antara penumpang,” ujar pihak manajemen bandara.
Berdasarkan pantauan terakhir, trafik penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta ke Kualanamu pada 1 September 2026 mencatatkan tingkat kedatangan dan keberangkatan yang signifikan. Meski demikian, pembatalan dan keterlambatan tak dapat dihindari.
Langkah Antisipasi Menghadapi Situasi Vulkanik
Pihak bandara juga menjelaskan langkah-langkah antisipasi yang diambil selama situasi ini. Salah satu langkah utama adalah memperbarui informasi terkait penerbangan secara reguler lewat berbagai saluran komunikasi. Hal ini untuk memastikan penumpang mendapatkan informasi yang akurat.
“Kami mendorong semua calon penumpang agar tetap memantau informasi terbaru dari maskapai mereka,” imbuh perwakilan bandara. Penggunaan aplikasi dan situs web resmi maskapai menjadi sumber valid untuk mendapatkan data terbaru.
Langkah antisipasi lain adalah meningkatkan kesiapsiagaan tim di lapangan. Tim bandara siap bekerja sama dengan petugas terkait untuk menangani situasi yang mungkin lebih buruk di kemudian hari. Persiapan matang sangat penting dalam merespons bencana alam.
















