Pasar investasi hotel di wilayah Asia Pasifik mengalami kebangkitan yang signifikan pada paruh pertama tahun 2026. Hal ini tercermin dari peningkatan transaksi aset perhotelan yang menunjukkan angka menjanjikan dan menaik 54% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Menurut laporan terbaru dari salah satu perusahaan konsultan real estate terkemuka, nilai transaksi di sektor ini mencapai US$6,8 miliar. Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak 2019, menunjukkan kekuatan sektor properti komersial di tengah tantangan ekonomi global.
Peningkatan ini didorong oleh permintaan domestik yang kuat, pemulihan arus wisatawan, serta selektivitas investor dalam memilih modal untuk aset-aset berkinerja baik. Ini mencerminkan minat dan optimisme yang tinggi dalam sektor perhotelan di kawasan ini.
Faktor Pendorong Pertumbuhan Pasar di Asia Pasifik
Ketiga pasar utama di wilayah Asia Pasifik, yaitu Jepang, Tiongkok, dan Australia, berperan penting dalam pertumbuhan kinerja investasi hotel. Jepang tercatat sebagai destinasi teraktif dengan nilai transaksi mencapai US$1,9 miliar, tumbuh 75% dibandingkan tahun lalu.
Di sisi lain, Tiongkok mengalami lonjakan transaksi yang luar biasa hingga 224% dengan nilai mencapai US$1,5 miliar. Aktivitas lelang aset pada kuartal kedua juga memberikan kontribusi signifikan dalam menciptakan dinamika pasar yang agresif.
Australia menyusul dengan volume transaksi sebesar US$901 juta, naik 38% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini disebabkan oleh meningkatnya minat investor swasta dan dana ekuitas yang berfokus pada aset premium di kawasan metropolitan.
Implikasi Positif Bagi Sektor Perhotelan Indonesia
Pertumbuhan positif pasar Asia Pasifik memberikan harapan baru bagi industri properti dan perhotelan di Indonesia. Salah satu langkah penting adalah transaksi investasi lintas negara untuk hotel mewah yang direncanakan beroperasi pada tahun 2027.
Hotel tersebut merupakan bagian dari kompleks Thamrin Nine di Jakarta Pusat, dan dikembangkan melalui kolaborasi yang melibatkan investor dari berbagai negara. Transaksi ini menunjukkan potensi peningkatan investasi yang semakin besar di sektor perhotelan Indonesia.
Saat ini, ada keyakinan bahwa hubungan bilateral yang kuat antara Indonesia dan investor luar negeri akan meningkatkan kepercayaan dalam melakukan transaksi di sektor perhotelan dan properti.
Strategi Transformasi dalam Sektor Perhotelan
Laporan terbaru menunjukkan bahwa strategi investasi di kalangan pengelola dana semakin berkembang, dengan fokus pada akuisisi hotel berkinerja rendah untuk diubah menjadi hunian modern, seperti student housing dan co-living. Pergeseran ini mencerminkan respons terhadap meningkatnya permintaan akan hunian di pusat kota.
Investasi ini tidak hanya membawa nilai tambah, tetapi juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. Misalnya, di Hong Kong, beberapa hotel telah berhasil dijual dan dikonversi menjadi hunian mahasiswa.
Langkah serupa juga terjadi di Singapura, di mana akuisisi aset dilakukan dengan tujuan transformasi menjadi properti co-living yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda saat ini.
Proyeksi Pasar Hotel dan Pendapatan Per Kamar yang Menjanjikan
Para ahli memproyeksikan bahwa performa operasional hotel akan tetap solid hingga akhir tahun 2026. Indikator pendapatan per kamar yang tersedia menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan rata-rata di atas 6% di seluruh kawasan Asia Pasifik.
Kenaikan harga harian rata-rata menjadi salah satu pendorong utama dalam kinerja ini, terutama di kawasan Australia dan Asia Tenggara. Dengan pemulihan jumlah wisatawan internasional, proyeksi jumlah kedatangan akan terus meningkat.
Melihat tren ini, diperkirakan bahwa total volume investasi hotel di Asia Pasifik akan meningkat sebesar 15 hingga 20% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang mencerminkan optimisme para investor dalam sektor perhotelan ini.
















