Pasar perumahan di kawasan Jabodebek-Banten terus mengalami tantangan yang signifikan, terutama menjelang kuartal II-2026. Meskipun aktivitas penjualan rumah masih berlangsung, banyak indikator menunjukkan bahwa laju pertumbuhan pasar mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Menurut laporan terbaru, penjualan rumah primer hanya tumbuh sebesar 0,9 persen secara kuartalan. Namun, nilai transaksi malah mengalami penurunan sebesar 0,4 persen, yang menunjukkan bahwa konsumen lebih cenderung memilih rumah dengan harga yang terjangkau.
Dalam konteks tersebut, CEO lembaga analisis properti ternama menyatakan bahwa kondisi ini mencerminkan bahwa pasar perumahan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang jelas. Jika dilihat dari proyeksi yang ada, meski ada beberapa transaksi, tren penurunan masih terlihat mencolok.
Permintaan Rumah dengan Harga Terjangkau Meningkat Signifikan
Perubahan mencolok dalam pasar perumahan terjadi saat ini adalah pergeseran permintaan yang mengarah pada segmen rumah dengan harga lebih rendah. Dataran di bawah Rp500 juta kini diakui sebagai pendorong utama penjualan, menggantikan segmen yang lebih mahal.
Laporan menunjukkan bahwa rumah dalam rentang harga Rp300 juta hingga Rp500 juta menjadi kontribusi terbesar dalam penjualan rumah primer. Sementara itu, segmen harga antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar mengalami penurunan yang drastis dari waktu ke waktu.
Menurut para analis, situasi ini dipengaruhi oleh batas-batas psikologis yang dimiliki oleh konsumen saat membeli rumah. Konsumen dengan anggaran terbatas merasa lebih nyaman membeli rumah di bawah Rp500 juta sementara mereka yang memiliki anggaran lebih besar beralih ke segmen rumah di atas Rp1 miliar.
Angka Pembatalan Pembelian Rumah Meningkat Dalam Jangka Waktu Singkat
Selain pergeseran permintaan, tren pembatalan pembelian rumah juga mengalami penyusutan. Bartarif survei menunjukkan bahwa pada kuartal II-2026, tingkat pembatalan pembelian rumah mencapai 17,73 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya.
Wilayah seperti Bekasi dan Tangerang menjadi favorit dalam hal pembatalan, dengan angka yang cukup tinggi dalam ranah Jabodebek-Banten. Penjelasan terkait fenomena ini menyatakan bahwa pembatalan tidak hanya dialami oleh konsumen, tetapi juga dapat dipicu oleh faktor eksternal, seperti persetujuan kredit yang tidak disetujui bank.
Analisis lebih dalam menjelaskan bahwa banyak calon pembeli merasa kesulitan dalam proses pembiayaan melalui skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang menjadi tantangan tersendiri dalam mencapai transaksi yang diharapkan.
Pembangunan Proyek Baru Tertekan oleh Biaya yang Meningkat
Kondisi pasar yang menantang juga mempengaruhi pengembang properti yang kini dihadapkan pada meningkatnya biaya pembangunan. Inflasi dalam sektor konstruksi bangunan tempat tinggal saat ini mencapai angka yang signifikan, mencatat 9,5 persen secara tahunan hingga Juni 2026.
Beberapa pengembang mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka sebagai respons terhadap kenaikan harga material. Tindakan ini terlihat sebagai langkah cerdas untuk menunggu momen pasar yang lebih stabil sebelum melanjutkan pembangunan.
Di tengah tekanan tersebut, beberapa pelaku industri memilih untuk menunda proyek baru agar tidak terjerat dalam risiko yang lebih besar ketika daya serap pasar masih lemah. Keputusan ini bertujuan untuk menjaga arus kas serta meningkatkan peluang ke depannya.
Insentif PPN DTP Masih Berperan dalam Mendorong Penjualan
Di tengah tantangan ini, pemerintah tetap memberikan dukungan melalui program Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP). Walaupun ada sedikit penurunan, sekitar 62 persen dari penjualan rumah indent memanfaatkan fasilitas ini untuk mendongkrak transaksi.
Meski demikian, insentif ini masih dianggap relevan bagi pasar. Banyak pengamat berpendapat bahwa program ini mampu memberikan dorongan yang diperlukan di saat pasar sedang lesu.
Pada akhirnya, respons positif terhadap PPN DTP menunjukkan bahwa insentif semacam itu memang sangat bermanfaat dalam merangsang pasar perumahan di tengah berbagai kendala yang ada.
Outlook Pasar Perumahan di Masa Depan Masih Penuh Ketidakpastian
Kondisi pasar yang tidak menentu membuat prediksi untuk masa depan menjadi cukup sulit. Berdasarkan analisis, dapat disimpulkan bahwa pasar perumahan di kawasan Jabodebek-Banten belum diharapkan untuk pulih dalam waktu dekat.
Sebagian besar analis sepakat bahwa jika situasi ekonomi tidak beranjak signifikan, pasar ini seharusnya mulai menunjukkan pergerakan positif pada triwulan II-2027. Namun, pemulihan diperkirakan masih berlangsung secara bertahap dan tidak instan.
















