Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi momen penting bagi kerukunan antarumat beragama. Geliat toleransi ini tampak jelas dalam upaya kolaborasi berbagai elemen masyarakat untuk mendukung acara besar tersebut.
Sejumlah gereja dan lembaga keagamaan di sekitar Jombang berinisiatif membuka fasilitas penginapan gratis bagi para peserta muktamar. Langkah ini menunjukkan komitmen masyarakat lokal dalam menciptakan suasana harmonis dan saling mendukung di tengah keragaman agama.
Inisiatif ini diorganisir oleh Jaringan NU Kultural (JANUR) Jombang, berkolaborasi dengan beberapa gereja lokal dan Klenteng Gudo. Kerjasama ini bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan pelayanan terbaik bagi para tamu muktamar yang datang dari berbagai daerah.
Peran Gereja Kristen Jawi Wetan dalam Menyukseskan Muktamar NU
Salah satu gereja yang ikut berpartisipasi dalam inisiatif ini adalah Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Jombang, Kaliwungu. Dengan penuh semangat, gereja ini membuka pintu kasihnya untuk menerima muktamirin yang menginap selama acara berlangsung.
Perwakilan GKJW, Achmad Soleh, mengungkapkan bahwa tradisi ini bukan hal baru bagi gereja mereka. Penyelenggaraan Muktamar NU di Jombang juga pernah melibatkan kerjasama serupa pada tahun 2015, menandakan hubungan baik yang terjalin selama bertahun-tahun.
Menurut Kung Soleh, hubungan antara GKJW dan NU sudah cukup lama dan erat, bahkan sebelum Indonesia merdeka. lingkungan GKJW di tengah komunitas NU menjadi bukti nyata keharmonisan yang telah terbangun.
Kenyamanan untuk Muktamirin di Rumah Singgah
Untuk mendukung kenyamanan para tamu, GKJW menyediakan ruangan ber-AC, kasur busa, hingga fasilitas mandi yang memadai. Mereka juga mempersiapkan tempat untuk ibadah salat, menjadikan tempat ini ramah bagi semua orang.
Penginapan ini mencakup muktamirin yang datang dari berbagai daerah, termasuk pelajar, aktivis, hingga jurnalis. Dengan latar belakang yang beragam, mereka semua merasa disambut hangat oleh komunitas lokal.
Berbagai daerah di Indonesia, seperti Manado dan Kebumen, mengirimkan utusannya untuk mengikuti muktamar. Respons positif dari anggota jemaat menunjukkan dukungan terhadap inisiatif ini.
Persepsi Komunitas terhadap Kerukunan
Menurut Kung Soleh, semua respons positif dari jemaat dan pimpinan sinode GKJW menunjukan komitmen yang kuat terhadap kerukunan antarumat beragama. Apresiasi dari Ketua Majelis Agung GKJW menandakan bahwa inisiatif ini mendapat pengakuan yang baik di kalangan masyarakat.
Perjuangan untuk memupuk toleransi di Jombang semakin nyata, dengan kota ini dikenal sebagai daerah yang menghargai keragaman. Dalam suasana seperti ini, kehadiran Muktamar NU diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang berdampak positif.
Ia berharap keputusan yang diambil dalam muktamar akan mendukung kedamaian dan memperkuat kerukunan antar umat beragama. Harapan ini mencerminkan sikap optimis terhadap masa depan hubungan antarumat di Jombang.
















