Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh Surabaya telah melanggar standar operasional prosedur (SOP) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menyebabkan lebih dari 200 siswa mengalami keracunan massal. Hal ini pun menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat terkait keamanan makanan yang diberikan kepada anak-anak sekolah.
Perwakilan BGN Jawa Timur, Kusmayanti, mengatakan bahwa salah satu pelanggaran yang terjadi adalah tidak adanya pengawas gizi saat bahan baku makanan tiba di lokasi. Dia menekankan bahwa penerapan SOP perlu diperhatikan untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan.
Kusmayanti menyatakan, “Pengawasan saat bahan baku datang sangat penting. Ketidakadaan pengawas gizi mengakibatkan kami tidak dapat memastikan titik kerusakan makanan, apakah saat pendistribusian atau saat pengolahan.” Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengawasan yang lemah dapat berakibat fatal.
Masalah yang Terjadi dalam Proses Pengolahan Makanan
Pada rapat dengar pendapat (hearing) bersama DPRD Kota Surabaya, Kusmayanti mengungkapkan lebih lanjut tentang absennya pengawas gizi yang berkontribusi pada masalah ini. Kejadian ini merupakan titik awal dari serangkaian isu yang mengarah pada keracunan massal.
Dia menambahkan bahwa proses pengolahan makanan juga melibatkan banyak langkah yang harus dipatuhi untuk memastikan keamanan. Jika pengawasan tidak dilakukan dengan baik, potensi risiko terhadap kesehatan konsumen meningkat secara signifikan.
Kondisi ini semakin memburuk ketika sampel makanan yang perlu diuji untuk kepentingan laboratorium mengalami kerusakan. Sampel tersebut dikeluarkan dari lemari pendingin tanpa penanganan yang tepat.
“Sampel seharusnya ditangani dengan baik dan dimasukkan ke dalam cooler box, tidak boleh dibiarkan pada suhu ruangan,” kata Kusmayanti, menjelaskan akibat yang ditimbulkan dari pengawasan yang buruk.
Pernyataan Resmi dari BGN dan Tanggapan Masyarakat
Atas insiden ini, BGN dengan tulus mengucapkan permohonan maaf kepada masyarakat. Kasus ini menandai peristiwa keracunan pertama dalam program MBG yang telah diterapkan di wilayah Surabaya.
“Kami sangat menyadari kesalahan ini dan berkomitmen untuk lebih hati-hati dalam penerapan SOP ke depannya,” tambah Kusmayanti. Permohonan maaf ini menunjukkan keseriusan BGN dalam menangani masalah tersebut dan upaya untuk memperbaiki diri.
Bersamaan dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Billy Daniel Messakh, juga mencermati proses pengolahan makanan di dapur SPPG yang tidak sesuai dengan standar kesehatan. Hasil investigasi menunjukkan kejanggalan dalam proses pencairan daging beku yang dinilai tidak aman.
“Daging yang seharusnya dicairkan di tempat bersih justru dilakukan di area yang tidak higienis, yang mempermudah serangan lalat,” ungkap Billy, menyoroti bahaya yang dihadapi siswa.
Upaya Peningkatan Standar Keamanan Makanan di Sekolah
Dinas Kesehatan Surabaya mencatat sejumlah hal yang perlu diperbaiki agar insiden serupa tidak terulang. Fasilitas dapur harus memenuhi standar hygienitas yang ketat dan memastikan alat yang diperlukan berfungsi dengan baik.
Penghalang seperti tirai plastik pada pintu masuk dapur juga menjadi sorotan, karena ketidakhadirannya dapat mengizinkan serangga untuk masuk. Upaya pencegahan seperti ini penting untuk menjaga kualitas makanan yang disajikan kepada siswa.
Kesadaran masyarakat terhadap masalah ini juga meningkat. Banyak orang tua mulai bertanya tentang kebersihan dan keamanan makanan yang diberikan kepada anak-anak mereka. Ini menciptakan dorongan bagi pihak berwenang untuk mengimplementasikan langkah-langkah pengawasan yang lebih ketat.
Penanganan yang tepat dan cepat terhadap masalah ini diharapkan bisa mencegah terjadinya insiden serupa di masa depan. Hal ini juga memperlihatkan pentingnya keterlibatan semua pihak dalam menjaga keamanan pangan, terutama bagi anak-anak.
Penantian Hasil Uji Laboratorium untuk Menentukan Penyebab
Sampai saat ini, BGN dan Dinas Kesehatan Surabaya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk mengetahui sumber pasti dari keracunan tersebut. Hasil ini sangat penting untuk melengkapi kasus dan menentukan langkah selanjutnya.
Insiden keracunan ini melibatkan sekitar 200 siswa dan guru dari 12 sekolah di Kelurahan Tembok Dukuh, Kecamatan Bubutan. Seluruhnya mengalami gejala yang mengarah pada keracunan setelah menyantap makanan yang disediakan dalam program MBG.
Sampai berita ini diturunkan, sebagian besar siswa telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan. Namun, terdapat beberapa siswa yang masih menjalani observasi di rumah sakit karena kondisi kesehatan yang harus diawasi lebih lanjut.
Insiden ini menyentuh aspek yang lebih luas mengenai kesehatan anak di sekolah. Hal ini menjadi pengingat bagi semua pihak mengenai pentingnya tidak hanya gizi, tetapi juga keamanan makanan yang dikonsumsi dalam program sekolah.
Pemerintah pun diharapkan lebih proaktif dalam mengawasi dan menegakkan standar kesehatan di semua sekolah agar kejadian serupa tidak terulang. Dalam hal ini, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat.











