Jakarta, Kejaksaan Agung kembali mengambil langkah signifikan dengan menetapkan satu orang tersangka baru dalam kasus korupsi yang melibatkan tata kelola program Makan Bergizi Gratis untuk periode 2025-2026. Penetapan ini menunjukkan upaya serius dari pihak berwenang dalam memberantas praktik korupsi yang merugikan masyarakat.
Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, Syarief Sulaeman Nahdi, mengungkapkan bahwa tersangka baru tersebut adalah Glory Harimas Sihombing, yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Indonesia Food Security Review. Dalam perannya, Glory diduga terlibat dalam proses pengadaan yang tidak transparan dalam program tersebut.
Pihak Kejaksaan menyatakan bahwa Glory sebagai pihak swasta diminta oleh eks Kepala BGN Dadan Hindayana untuk mencari mitra-mitra yayasan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi. Langkah ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai integritas dan transparansi dalam pengelolaan program sosial yang seharusnya berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Detail Kasus Korupsi yang Terungkap oleh Kejaksaan
Dalam konferensi pers yang digelar, Syarief mengungkapkan bahwa Glory Sihombing telah memberikan sejumlah mata uang, baik dalam bentuk asing maupun rupiah, kepada Dadan Hindayana. Tindakan ini mengindikasikan adanya praktik suap yang merugikan program Makan Bergizi Gratis dan, lebih jauh lagi, menghalangi akses masyarakat terhadap makanan bergizi.
Akibat perbuatannya, Glory kini ditahan selama 20 hari di Rutan Salemba cabang Kejaksaan Agung. Langkah ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum yang lebih ketat dalam menangani kasus-kasus korupsi di Indonesia, terutama yang melibatkan dana publik.
Sebelumnya, total lima orang tersangka lainnya sudah ditetapkan dalam kasus yang sama. Mereka termasuk eks Kepala BGN, Dadan Hindayana; Eks Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung; serta dua individu lainnya yang berperan sebagai kaki tangan dalam jaringan tersebut. Penangkapan ini memunculkan keprihatinan mendalam tentang tata kelola lembaga pemerintah dalam melaksanakan program sosial.
Tata Kelola Program Makan Bergizi yang Bermasalah
Kejaksaan Agung menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis seharusnya dikelola oleh yayasan Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi yang terafiliasi dengan sekolah-sekolah penerima. Namun, pelaksanaannya tidak berjalan sesuai rencana. Banyak yayasan yang justru ditunjuk tanpa memenuhi syarat yang ditentukan.
Dalam praktiknya, terdapat banyak yayasan yang tidak memiliki kapasitas untuk menjadi mitra SPPG, sehingga menyebabkan kerugian yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa ada serangkaian masalah dalam seleksi mitra, yang seharusnya dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Salah satu permasalahan yang terungkap adalah adanya mark up harga pengadaan barang yang signifikan. Hal ini menyebabkan kerugian yang tidak mendukung pelaksanaan program Makan Bergizi, termasuk pengadaan item seperti motor listrik, sepatu, tablet, dan televisi.
Kerugian yang Dihasilkan dari Praktik Mark Up
Kerugian yang dialami akibat praktik mark up ini sangat mencolok. Sebagai contoh, 21.801 unit motor listrik yang seharusnya bernilai Rp1,03 triliun, serta banyaknya barang lainnya seperti 32.000 pasang sepatu dan 31.994 unit tablet. Jumlah kerugian ini menunjukkan besarnya dampak yang ditimbulkan dari korupsi dalam program yang seharusnya bermanfaat bagi masyarakat.
Selain itu, pengadaan 5.400 unit televisi 75 inch juga mengundang kritik. Mengingat bahwa tujuan dari program ini adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi, distribusi barang-barang yang tidak sesuai sangat merugikan masyarakat yang seharusnya menerima manfaat dari program tersebut.
Dalam konteks ini, penegakan hukum yang dilakukan oleh Kejaksaan Agung merupakan langkah yang sangat penting. Hal ini diharapkan tidak hanya menuntut pertanggungjawaban individu-individu yang terlibat, tetapi juga memperbaiki sistem dan prosedur yang ada agar lebih transparan dan efisien di masa depan.















