Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, baru-baru ini mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai insiden kebakaran yang melanda Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Kejadian ini terjadi pada Selasa (20/10), dan menambah daftar panjang kecelakaan kapal di Indonesia sepanjang tahun ini.
Kebakaran tersebut terjadi saat kapal sedang beroperasi di perairan Selat Sunda, dan Lasarus meminta agar kementerian perhubungan segera melakukan evaluasi menyeluruh. Menurutnya, kejadian ini menunjukkan bahwa belum ada perbaikan nyata dalam pengawasan keselamatan kapal di Indonesia.
Lasarus menegaskan bahwa insiden ini bukanlah yang pertama kalinya dan menyayangkan tidak adanya tindakan lanjut dari pihak terkait. Di tengah maraknya kecelakaan, kebutuhan akan evaluasi mendesak agar peristiwa serupa tidak terulang lagi di masa mendatang.
Pentingnya Evaluasi Menyeluruh Terhadap Keselamatan Kapal
Lasarus menyampaikan bahwa evaluasi adalah hal yang sangat krusial untuk mencegah kecelakaan kapal yang berulang. Ia menyoroti bahwa permintaan evaluasi tersebut tampaknya tidak diindahkan oleh Kementerian Perhubungan, padahal sudah disampaikan secara resmi. Kejadian kebakaran ini menjadi refleksi tentang lemahnya sistem pengawasan yang ada.
“Kita sudah beberapa kali meminta evaluasi menyeluruh, tetapi tampaknya tidak ada langkah nyata yang diambil,” ujarnya. Bagi Lasarus, situasi ini mencerminkan kegagalan pemerintah dalam melindungi keselamatan public saat menggunakan transportasi laut.
Lebih jauh, Lasarus mempertanyakan mengapa SOP yang sudah terbukti gagal masih tetap digunakan. Ia meyakini bahwa harus ada perbaikan siginifikan untuk mekanisme pengawasan agar keselamatan penumpang tidak menjadi taruhannya. Setiap penumpang berhak untuk merasa aman saat berlayar.
Penyebab Kebakaran KMP Batumandi Masih Diselidiki
Kebakaran yang melanda KMP Batumandi diduga berasal dari area buritan kapal, khususnya di bagian deck atas yang digunakan untuk mengangkut kendaraan kecil. Korporasi terbuka menyatakan bahwa penyebab pasti dari insiden ini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut.
Corporate Secretary PT ASDP, Windy Andale, menyatakan bahwa koordinasi dengan pihak kepolisian dan Basarnas sedang dilakukan untuk mendalami lebih dalam penyebab kebakaran ini. Dugaan sementara mengindikasikan adanya percikan api dari area tertentu, namun semua masih dalam tahap investigasi.
Momen seperti ini sangat penting untuk diwaspadai, dan investigasi harus dilakukan secara menyeluruh. Dalam konteks tersebut, transparansi terhadap hasil penyelidikan akan menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap keselamatan transportasi laut di Indonesia.
Evakuasi Penumpang Berjalan Lancar, Namun Perhatian Kesehatan Diperlukan
Dalam insiden kebakaran ini, total 460 orang berhasil dievakuasi secara aman, termasuk 420 penumpang dan 40 kru. Meskipun seluruhnya dalam kondisi selamat, ada 11 orang yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut.
Proses evakuasi ini menunjukkan adanya upaya yang sangat baik dari tim penyelamat dan kru kapal. Namun, pentingnya perhatian kesehatan bagi semua yang terlibat tidak boleh diabaikan, terutama dalam situasi yang penuh tekanan seperti kebakaran ini.
Setelah evakuasi, para penumpang yang mengalami stres akibat insiden diharapkan mendapatkan dukungan psikologis. Hal ini penting guna memastikan bahwa tidak hanya keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan mental mereka mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang.
Tindakan Pemerintah Pasca Insiden Perlu Segera Diterapkan
Menindaklanjuti insiden ini, Lasarus mengingatkan bahwa respons dari pemerintah seharusnya lebih cepat dan akurat untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Ia mengecam tanggapan yang dinilai lemah oleh Kementerian Perhubungan dalam menangani kasus-kasus kecelakaan kapal.
“Respons yang lemah hanya akan menciptakan atmosfer yang tidak aman bagi para penumpang,” ungkapnya. Kehadiran pemerintah sangat dibutuhkan dalam memperkuat regulasi dan pengawasan terhadap keselamatan transportasi laut.
Menciptakan standar operasional yang lebih baik dan memastikan pelaksanaannya akan menjadi langkah awal yang baik. Evaluasi rutin dan pembaruan prosedur diperlukan agar setiap kecelakaan yang terjadi tidak menjadi sia-sia dan tidak terulang lagi.














