Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Sultan Bachtiar Najamudin, baru-baru ini memperkenalkan konsep ‘green democracy’ yang menjadi fokus DPD RI. Konsep ini muncul dalam forum Senator Menyapa 2026 yang diadakan di Jakarta, yang berfungsi sebagai platform untuk mengevaluasi perjalanan lembaga tersebut.
Dalam forum tersebut, Sultan Najamudin menyampaikan bahwa gagasan tersebut bertujuan untuk menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan. Ini adalah langkah yang menunjukkan bahwa penegakan demokrasi harus menjaga keseimbangan antara berbagai aspek masyarakat.
“Gagasan green democracy menunjukkan keyakinan kami bahwa demokrasi tidak boleh merugikan lingkungan. Kami percaya, pertumbuhan ekonomi hari ini tidak boleh menjadi beban bagi generasi mendatang,” imbuhnya.
Pentingnya Keseimbangan dalam Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan
Sultan Najamudin menjelaskan bahwa green democracy berfokus pada mempertahankan harapan masyarakat dan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini menjadi esensial untuk menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi semua. Semangat ini, menurutnya, harus diterjemahkan ke dalam setiap kerja politik yang dilakukan oleh DPD RI.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya tindakan yang etis dan berkelanjutan dalam politik untuk menjaga kelestarian lingkungan. Keadilan sosial menjadi pilar utama dalam membangun kerangka kebijakan yang berpihak kepada masyarakat.
“Kami ingin memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan keadilan sosial dan tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi semata,” jelasnya. Hal ini menegaskan bahwa pertumbuhan yang sehat harus disertai dengan kesadaran lingkungan yang tinggi.
Evaluasi Dua Dasawarsa DPD RI dan Agenda ke Depan
Forum Senator Menyapa 2026 juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi dua dasawarsa perjalanan DPD RI. Dalam diskusi tersebut, banyak narasumber yang dihadirkan untuk memberikan pandangan dan rekomendasi terkait tantangan yang dihadapi. Sultan Najamudin tidak hanya berbicara tentang prestasi, tetapi juga tantangan yang mesti dihadapi di masa depan.
Kerja sama antara DPD RI dan berbagai pihak menjadi sangat penting. Para pembicara, termasuk Menteri Koordinator Bidang Pangan dan Gubernur Maluku Utara, menyampaikan berbagai perspektif yang menyoroti pentingnya kolaborasi untuk mencapai tujuan pembangunan yang lebih baik.
Ketua DPD RI juga berharap agar forum tersebut tidak sekadar menjadi wahana penyampaian informasi. Ia ingin diskusi itu berlanjut menjadi mekanisme yang nyata untuk menindaklanjuti hasil pembicaraan dan memastikan pencapaian yang berkelanjutan.
Menjadi Jembatan Antara Pemerintah dan Masyarakat
DPD RI berperan sebagai jembatan antara pemerintah pusat dan daerah, memastikan aspirasi masyarakat terwakili. Sultan Najamudin menggarisbawahi pentingnya mendengarkan suara daerah dalam setiap keputusan yang diambil. Ia percaya, dengan mendengarkan masyarakat, DPD RI dapat membawa perubahan yang signifikan.
Jembatan tersebut, dikatakan Sultan, tidak hanya berfungsi untuk menyalurkan aspirasi, tetapi juga untuk memberi edukasi kepada masyarakat tentang kebijakan yang ada. Aktivitas ini diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses politik.
“Kami ingin masyarakat lebih sadar akan hak dan tanggung jawabnya dalam berpolitk,” tambahnya. Tujuannya agar setiap orang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga berperan aktif dalam pembangunan daerahnya.















