Institut Teknologi Bandung (ITB) baru-baru ini menjadi sorotan publik akibat pernyataan provokatif yang muncul di media sosial. Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara, menyampaikan penyesalan terkait pernyataan tersebut yang ditujukan kepada pendukung klub Persib Bandung, dikenal dengan istilah Bobotoh.
Dirgantara mengungkapkan pentingnya menjaga keharmonisan antar komunitas, terutama dalam lingkungan akademik. Ia juga menegaskan bahwa tindakan provokatif tersebut tidak mewakili pandangan resmi dari institusinya.
Situasi ini berawal dari adanya cuitan yang menyebut Bobotoh sebagai ‘hama’. Pernyataan ini, yang berasal dari akun non-resmi, menjadi viral dan berpotensi merusak hubungan antara atmosfer kampus dan para suporter.
Pentingnya Etika dalam Berkomunikasi di Media Sosial
Media sosial memiliki kekuatan besar dalam menyebarkan informasi, baik positif maupun negatif. Terlebih, dalam konteks akademik, penting untuk menjaga etika dan sopan santun dalam berkomunikasi.
Perilaku negatif yang terlanjur viral dapat berimbas pada reputasi institusi pendidikan. Oleh karena itu, tanggung jawab moral dari setiap individu dalam menciptakan narasi yang positif menjadi sangat penting.
Dirgantara menambahkan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua pihak. Semua elemen, baik mahasiswa maupun pengajar, diharapkan dapat memperkuat harmoni alih-alih membangun dinding pemisah antar kelompok.
Konflik yang Muncul Akibat Narasi Negatif
Ketua Viking Persib Club, Tobias Ginanjar, turut angkat bicara mengenai situasi tersebut. Dalam pernyataannya, Ginanjar mengimbau agar para Bobotoh tidak terpengaruh oleh pernyataan yang tidak bertanggung jawab.
Ia menekankan bahwa banyak anggota keluarga besar ITB juga merupakan pendukung setia Persib Bandung. Hal ini menunjukkan bahwa ada keterikatan yang kuat antara kampus dan komunitas suporter.
Dalam pertemuan antara perwakilan Bobotoh dan pihak ITB, terbuka ruang dialog untuk menyelesaikan masalah yang ada. Ginanjar dan Dirgantara sepakat menghentikan segala narasi provokatif dan bekerja sama untuk menciptakan situasi yang lebih kondusif.
Tindakan Proaktif Dari Pihak ITB
Rektor ITB pun merespons dengan tegas akan disiplinnya tim internal yang menyebarkan narasi negatif. Ia menyatakan komitmen untuk menindak pelaku yang mengganggu kedamaian dan kerukunan antar komunitas.
Keputusan ini diambil sebagai langkah preventif agar isu serupa tidak terulang di masa depan. ITB ingin memastikan bahwa di lingkungan kampus, semua pihak memiliki rasa saling menghormati yang tinggi.
Selain itu, keterlibatan komunitas suporter dalam mendukung program-program kampus juga diharapkan dapat menciptakan ikatan yang lebih baik. Ini langkah strategis untuk membuat Bandung sebagai kota yang aman dan damai untuk semua.
















