Kapal KM Nurul Salsa yang tengah berlayar di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, mengalami kecelakaan yang tragis pada Rabu pagi. Andi Samad, salah satu penumpang yang selamat, mengungkapkan pengalaman pahit dan heroik saat kapal tersebut terjebak dalam gelombang besar, yang akhirnya mengakibatkan tenggelamnya kapal.
Peristiwa tersebut mengguncang kepercayaan aman berlayar di perairan tersebut. Kesaksian Andi Samad memberikan gambaran mendalam tentang betapa menegangkan situasi yang mereka hadapi sebelum kapal akhirnya tenggelam.
“Kapal kami diterjang gelombang setinggi lebih dari tiga meter, dan tiba-tiba mesin utama mati,” ujar Andi Samad saat diwawancarai di rumah sakit. Bersama lima penumpang lainnya, dia terpaksa berjuang untuk bertahan hidup di tengah laut tanpa adanya bantuan yang segera datang.
Kronologi Kecelakaan Kapal yang Mengguncang
Musibah ini terjadi sekitar pukul 05.00 WITA. Setelah mengalami kerusakan mesin, awak kapal berusaha menurunkan jangkar untuk menjaga posisi kapal. Namun, inisiatif itu menjadi tidak efektif karena air terus memasuki lambung kapal akibat gelombang yang sangat tinggi.
Andi menjelaskan bahwa upaya untuk memperbaiki mesin kapal pun tidak membuahkan hasil. Seiring waktu, mesin kapal kembali mati, dan situasi semakin kritis ketika air laut mulai membanjiri bagian bawah kapal, membuat awak kapal panik.
“Kami semua berusaha tenang, meskipun keadaan semakin memburuk,” tambahnya. Sebagai penumpang yang paham tentang mesin, dia ditugaskan untuk membantu, tetapi semua usaha itu sia-sia dan situasi menjadi semakin parah.
Persiapan untuk Menyelamatkan Diri di Tengah Laut
Setelah menyadari bahwa kapal dalam kondisi darurat, Andi Samad menginformasikan kepada istrinya, Sitti Amang, untuk bersiap-siap menyelamatkan diri. Dia berusaha menenangkan istrinya di tengah kepanikan penumpang yang semakin meluas.
“Kondisi kapal menjadi semakin miring, dan kami semua tahu bahwa waktu kami semakin sedikit,” terangnya. Dalam situasi yang penuh ketegangan, dia memilih untuk tidak melompat ke laut terlebih dahulu, berharap akan ada kapal lain yang bisa memberikan pertolongan.
Setelah mempersiapkan diri dengan menggunakan gabus untuk membuat rakit darurat, Andi dan Sitti akhirnya melompat ke laut bersama beberapa penumpang lainnya. Saat melompat, dia sempat mengalami cedera akibat tertimpa patahan kayu dari kapal yang tenggelam.
Perjuangan Bertahan Hidup di Tengah Lautan
Tiga penumpang yang berhasil selamat bersama Andi adalah Bau Asseng (23), Diska Yanti (7), dan Sri Ardita (17). Merekalah yang bertahan hidup selama empat hari terombang-ambing di laut sebelum akhirnya ditemukan oleh tim SAR. Mereka berjuang melawan kehausan dan kelaparan dalam situasi yang mengenaskan.
Andi menggambarkan betapa mengerikannya berada di tengah laut tanpa harapan. “Kami hanya dapat berpegang pada harapan bahwa ada yang akan menemukan kami,” ujarnya penuh haru. Kemandirian mereka untuk bertahan sangat diuji dalam kondisi yang keras.
Selama di lautan, Andi dan teman-temannya saling mendukung satu sama lain dan berusaha menggunakan semua sumber daya yang ada, meskipun sangat terbatas. Dengan penuh kesabaran, mereka saling berbagi makanan dan air yang ada, berusaha untuk tetap kuat hingga mencapai bantuan.














