Di Korea Selatan, sebuah survei baru-baru ini menunjukkan bahwa tujuh dari sepuluh lansia ingin tetap aktif dalam dunia kerja. Rata-rata usia pensiun ideal pun meningkat, mencapai 73,6 tahun, angka tertinggi yang pernah tercatat sejak survei ini dimulai pada tahun 2011.
Motivasi orang lanjut usia untuk bekerja didominasi oleh kebutuhan finansial. Lebih dari separuh responden mengaku terus bekerja untuk memenuhi biaya hidup, sementara sebagian lainnya menyatakan bahwa mereka menikmati pekerjaan, meskipun hanya sedikit yang beralasan untuk tetap aktif atau berkontribusi kepada masyarakat.
Beban Keuangan Menjadi Penyebab Utama
Hasil survei tersebut mencerminkan perubahan pandangan tentang lansia yang bekerja. Di balik sikap ini, terdapat kesulitan finansial yang nyata yang harus dihadapi oleh populasi lansia di Korea Selatan.
Profesor kesejahteraan sosial dari Soongsil University, Hur Jun-soo, mengemukakan bahwa dengan meningkatnya harapan hidup dan kesehatan, orang-orang dapat bekerja hingga usia lanjut. Namun, sayangnya banyak dari mereka yang terpaksa bekerja bukan berdasarkan keinginan, tetapi karena kebutuhan.
Data dari Lembaga Penelitian Jaminan Pensiun Nasional Korea mengungkap fakta mencengangkan bahwa rata-rata usia pensiun di Korea Selatan adalah 52,9 tahun pada tahun 2025, sementara tunjangan pensiun baru mulai diterima pada usia 61 hingga 65 tahun, tergantung tahun kelahiran individu.
Hal ini menciptakan tantangan besar bagi banyak lansia, di mana mereka mungkin harus menghadapi lebih dari satu dekade tanpa penghasilan tetap setelah berhenti dari pekerjaan utama.
Pentingnya Dukungan untuk Lansia di Pasar Kerja
Di tengah kondisi ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memberikan dukungan lebih bagi lansia yang bekerja. Menciptakan kebijakan yang mendukung lansia agar dapat terus berkontribusi di pasar kerja adalah langkah penting yang perlu diambil.
Keterampilan yang dimiliki oleh lansia sangat berharga dan bisa digunakan untuk mentor bagi generasi muda. Dengan pemanfaatan pengalaman mereka, banyak perusahaan akan diuntungkan saat mempekerjakan lansia yang memiliki banyak pengalaman hidup.
Selain itu, dengan adanya pelatihan dan pengembangan keterampilan, lansia dapat tetap kompetitif di pasar kerja yang terus berubah. Langkah ini tidak hanya membantu mereka secara finansial, tetapi juga memberikan mereka rasa tujuan dan kepuasan.
Menjaga Kesehatan Mental dan Fisik Lansia
Penting untuk diingat bahwa menjaga kesehatan fisik dan mental adalah kunci bagi lansia yang ingin tetap aktif bekerja. Aktivitas fisik yang teratur dan pola makan sehat sangat berpengaruh terhadap kebugaran mereka.
Masyarakat juga berperan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung agar lansia merasa dihargai dan diakui. Ini menciptakan suasana yang lebih positif, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.
Berbagai program komunitas yang melibatkan lansia dalam aktivitas sosial dan kegiatan fisik dapat membantu memelihara kesehatan mereka. Keterlibatan dalam kelompok dan aktivitas sosial dapat memberikan rasa memiliki dan meningkatkan kesehatan mental.
Perubahan Pandangan Terhadap Lansia dalam Berbagai Aspek
Dalam beberapa tahun terakhir, ada perubahan pandangan yang signifikan mengenai kemampuan dan kontribusi lansia di masyarakat. Masyarakat semakin menyadari bahwa lansia tidak hanya bisa berperan sebagai penerima bantuan, tetapi juga sebagai sumber daya yang berharga.
Media juga berkontribusi dalam membangun citra positif tentang lansia. Dengan menampilkan kisah-kisah positif mengenai lansia yang masih aktif dan berhasil, hal ini dapat menginspirasi generasi yang lebih muda.
Pentingnya pendidikan tentang usia dan kesehatan di kalangan masyarakat juga menjadi fokus. Melalui pendekatan yang lebih inklusif, masyarakat bisa lebih memahami dan menghargai kontribusi lansia, yang sering kali diabaikan.
















