Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah ke makam tiga mantan Presiden Republik Indonesia sebelum peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-80 Bhayangkara. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan jasa-jasa para tokoh bangsa dalam perjalanan demokrasi Indonesia.
Ziarah dimulai dengan kunjungan ke makam Abdurrahman Wahid, atau lebih dikenal sebagai Gus Dur, di kompleks Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Selama acara tersebut, Kapolri dan rombongan melaksanakan doa bersama dan menabur bunga sebagai tanda penghormatan.
Kapolri disambut oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, Abdul Hakim Machfudz, yang merasa terhormat atas kedatangan rombongan. Sigit menyatakan bahwa ziarah ini bertujuan bukan hanya untuk menghormati, tetapi juga untuk menyerap nilai-nilai penting dari para pendiri bangsa.
Makna Ziarah bagi Institusi Polri dan Bangsa Indonesia
Dalam pernyataannya, Kadivhumas Polri, Johnny Eddizon Isir, menjelaskan bahwa Gus Dur memiliki kontribusi besar dalam sejarah Indonesia, khususnya dalam penguatan institusi Polri. Melalui kesempatan ini, Polri diingatkan untuk selalu mengenang peran penting para pemimpin terdahulu.
Lebih lanjut, Kapolri Sigit menekankan bahwa nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pemimpin harus diingat dan dijaga. Dengan melakukan ziarah, Polri berkomitmen untuk meneruskan semangat perjuangan yang telah ditanamkan oleh para pemimpin bangsa yang telah menggagas reformasi.
Jalannya ziarah tersebut diharapkan dapat menjadi pengingat bagi seluruh anggota Polri akan tanggung jawab mereka sebagai pelanjut estafet kepemimpinan. Nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu menjadi panduan bagi institusi Polri dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Jalur Ziarah yang Ditempuh Kapolri dalam Kunjungan Ini
Setelah mengunjungi makam Gus Dur, Kapolri melanjutkan perjalanan ke makam Presiden pertama RI, Sukarno, di Blitar, Jawa Timur. Sigit menekankan pentingnya mengenang semua nilai yang diperjuangkan oleh Sukarno, terutama dalam menyatukan bangsa.
Dalam proses ziarah, Kapolri dan rombongan melakukan pembacaan doa dan menaburkan bunga di pusara Sukarno. Hal ini menunjukkan penghargaan yang mendalam terhadap jasa-jasa mendiang yang sangat berperan dalam mendirikan republik ini.
Setelah menghormati Sukarno, Sigit memastikan bahwa rombongan akan melanjutkan perjalanan ke makam Soeharto, presiden kedua Republik Indonesia. Rangkaian perjalanan ini menandai bagian penting untuk mengenali dan menghargai perjalanan sejarah bangsa.
Penghormatan Terakhir di Taman Makam Pahlawan
Di Astana Giribangun, Kapolri beserta rombongan membacakan doa dan menaburkan bunga di pusara Soeharto. Sigit menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya simbolis, tetapi juga memiliki makna mendalam terkait tanggung jawab dan amanah yang diemban Polri terhadap bangsa.
Pentingnya penghormatan kepada pemimpin masa lalu adalah agar generasi penerus tidak melupakan warisan yang telah ditinggalkan. Nilai-nilai yang diajarkan oleh mantan presiden menjadi landasan bagi pejuang di dunia kepolisian dan masyarakat Indonesia umumnya.
Kapolri menyatakan komitmennya untuk terus mempertahankan nilai-nilai yang telah diwariskan. Ini mencerminkan rasa syukur sekaligus kesadaran akan tanggung jawab besar yang harus diemban oleh institusi Polri demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
















