Di kaki Gunung Kinabalu, seorang remaja bernama Maria Agreda (14) menjalani kehidupan berbeda dari teman-temannya di tanah air. Ia lahir dan besar sebagai anak dari pekerja migran Indonesia (PMI) yang bekerja di ladang sayur sewaan di Desa Kundasang, Malaysia. Keseharian mereka diwarnai dengan tantangan hidup yang tidak mudah, namun semangat belajar Maria tak pernah surut.
Maria dan keluarganya belum memiliki izin tinggal resmi di Malaysia, tetapi itu tidak menghalangi kecintaannya pada pendidikan. Dari sekolah dasar hingga lulus SMP dalam waktu dekat, ia belajar di Community Learning Center (CLC) Kundasang, sebuah institut pendidikan yang didedikasikan bagi anak-anak PMI.
CLC merupakan hasil kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Malaysia sejak 2011, bertujuan untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak yang hadir di negara tersebut tanpa dokumen resmi. Maria termasuk dalam ribuan anak yang mendapat kesempatan pendidikan meski dalam situasi yang tidak ideal.
Perjalanan Pendidikan Maria di CLC dan Tantangannya
Sebelumnya, layanan CLC lebih fokus pada anak-anak PMI yang orang tuanya bekerja di ladang sawit. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan, CLC kini juga melayani anak-anak dari sektor pekerjaan lain. Ini menunjukkan komitmen bersama dalam memberikan pendidikan yang layak untuk semua anak.
Maria adalah salah satu dari sekitar 22 ribu siswa yang ada di CLC yang tersebar di negara bagian Sabah dan Sarawak. Setiap tahun, lebih dari 1.700 siswa lulus dari CLC tingkat SMP, tetapi sayangnya, banyak di antara mereka berharap untuk melanjutkan pendidikan ke SMA formal di Malaysia terpaksa terhalang oleh masalah dokumen imigrasi.
Siswa-siswa ini memiliki potensi besar, namun mereka sering merasa terjebak oleh kebijakan yang berlaku. Program-program lain dalam pendidikan, seperti Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) juga diadakan untuk membantu anak-anak ini, memberikan solusi agar mereka dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya di tanah air.
Dukungan Pemerintah dan Program Beasiswa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (RI) telah meluncurkan sejumlah program beasiswa untuk memberikan dukungan pendidikan bagi anak-anak PMI. Salah satu program ini adalah ADEM, yang memberikan peluang kepada siswa untuk melanjutkan pendidikan SMA di Indonesia setelah mereka menyelesaikan sekolah menengah pertama di CLC.
Tahun ini, sebanyak 735 siswa dari 1.700 lulusan CLC di Sabah dan Sarawak menerima beasiswa ADEM. Maria menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut dan berharap bisa kembali ke Indonesia untuk melanjutkan cita-citanya menjadi ilmuwan.
Dengan perasaan campur aduk, Maria menyampaikan, “Senang sekaligus sedih harus meninggalkan orang tua di sini. Namun, saya percaya kesempatan mengejar cita-cita di Indonesia akan lebih terbuka.” Ini adalah harapan yang membawa semangat baru bagi Maria dan semua siswa yang terpaksa menjauh dari orang tua demi masa depan yang lebih cerah.
Kedatangan Siswa di Tanah Air dan Persiapan Masa Depan
Pada awal Juli, sekitar 124 siswa lulusan SMP dari berbagai daerah di Malaysia mendarat di Bandara Juanda, Surabaya. Mereka disambut hangat oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang mengapresiasi kedatangan anak-anak PMI ini.
Jawa Timur memiliki sejarah panjang sebagai destinasi untuk program beasiswa repatriasi. Sejak 2013, banyak siswa yang pulang dengan prestasi mengesankan, menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, mereka bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.
Gubernur Khofifah optimis bahwa anak-anak ini dapat melanjutkan pendidikan tinggi. Dengan adanya 29 sekolah yang tersedia untuk mereka di 13 kabupaten/kota, termasuk 18 SMA dan 11 SMK, banyak peluang terbuka untuk siswa-siswa ini meniti karir impian mereka.
















