Di tengah tantangan yang dihadapi, pemimpin maskapai penerbangan harus menemukan cara untuk bertahan dan beradaptasi. Tony Fernandes, selaku CEO Capital A, berbagi kisah tentang perjalanan berat yang dilaluinya dalam memimpin AirAsia selama dan setelah pandemi Covid-19.
Pandemi ini bukan hanya menjadi ujian bagi individu, tetapi juga bagi seluruh industri penerbangan. Pembatasan mobilitas global menciptakan situasi kritis yang dihadapi oleh para pemimpin di sektor ini.
Menghadapi Tantangan Selama Pandemi Covid-19 yang Menghancurkan
Saat dunia mulai menghadapi pandemi, sektor penerbangan segera merasakan dampaknya. Dengan 250 pesawat terpaksa dihentikan operasionalnya, Tony dan timnya dihadapkan pada tantangan yang lebih besar daripada sebelumnya.
Dengan lebih dari 26.000 karyawan, keadaan semakin sulit ketika tidak ada rute yang dapat dioperasikan. “Kami tidak hanya kehilangan pendapatan, tetapi juga harus menjaga kesejahteraan anggota tim kami,” ujarnya.
Selama periode ini, Tony merasa berat melakukan keputusan untuk mengadang gaji dan mempertahankan staf. Keputusan yang diambil demi kelangsungan hidup perusahaan, namun sangat menyakitkan bagi semua yang terlibat.
Pemulihan dan Proses Perawatan Armada Pesawat yang Terhenti
Setelah meredanya pandemi, tantangan baru muncul dalam bentuk perawatan armada pesawat yang sudah lama tidak terbang. “Kami harus memulai dari nol,” kata Tony mengenai kondisi pesawat yang harus diperbaiki.
Proses perawatan dan pemeliharaan bukanlah hal yang mudah dan cepat. Tony menjelaskan, bahwa tim harus memeriksa setiap pesawat dengan cermat agar semuanya memenuhi standar keselamatan yang diperlukan untuk kembali diterbangkan.
Walaupun banyak pesawat yang telah siap, proses ini memakan waktu lama. “Kami bahkan belum dapat mengembalikan seluruh armada ke operasi normal, meskipun sudah lebih dari dua tahun berlalu,” tambahnya dengan nada tak berdaya.
Kendala Keuangan dan Tanpa Dukungan dari Pemerintah
Berbeda dengan banyak perusahaan yang mendapatkan bantuan keuangan dari pemerintah, AirAsia tidak menerima dukungan tersebut. Kondisi ini membuat manajemen harus bekerja ekstra keras untuk menemukan sumber dana sendiri.
Setiap keputusan keuangan harus direncanakan dengan cermat agar dapat mengatasi dampak krisis ini. Dengan tidak adanya suntikan dana eksternal, pengetatan anggaran menjadi solusi yang harus diterapkan.
“Kami berusaha melakukan yang terbaik dengan sumber daya yang ada,” ujarnya, terlihat jelas bahwa semangat tim di dalam perusahaan menjadi kunci untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini.
















