Ratusan jamaah An-Nadzir di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, baru saja melaksanakan Salat Idul Adha 1447 Hijriah. Mereka menetapkan 10 Zulhijjah jatuh pada hari tersebut, lebih cepat sehari dibandingkan dengan penetapan pemerintah yang dijadwalkan pada Rabu (27/5).
“Penetapan awal Zulhijjah ini berdasarkan metode hisab dan rukyat yang kami gunakan sebagai pedoman,” ujar Pimpinan Jamaah An-Nadzir, Ustad M. Samiruddin Pademmui. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ada variasi dalam pelaksanaan ibadah di kalangan umat Islam.
Pemantauan terhadap perubahan bulan dilakukan oleh tim An-Nadzir. Mereka menyatakan bahwa pergantian bulan dari Zulqaidah ke Zulhijjah terjadi pada Minggu, 17 Mei 2026, sekitar pukul 04.03 WITA.
Proses Penentuan Awal Bulan dalam Agama Islam
Metode penentuan awal bulan dalam Islam sangat penting untuk berbagai ibadah, termasuk Salat Idul Adha. Dalam hal ini, An-Nadzir menggunakan teknik hisab dan rukyat yang sudah menjadi tradisi bagi mereka.
Pertemuan antara dua metode, hisab dan rukyat, seringkali menghasilkan perbedaan penetapan. Oleh karena itu, berbagai kelompok seperti An-Nadzir tetap mengikuti prinsip yang mereka yakini.
Hal ini mencerminkan keragaman dalam interpretasi agama, di mana masing-masing kelompok mempunyai cara dan sikap tersendiri dalam menjalankan ibadah. Proses penentuan bulan ini sebetulnya bisa menjadi refleksi dari kesatuan dan perbedaan umat Islam di seluruh dunia.
Pentingnya Salat Idul Adha dalam Tradisi Islam
Salat Idul Adha adalah salah satu momen penting dalam kalender Islam. Ini bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga menjadi tanda kebersamaan dan solidaritas sosial antar jamaah.
Setelah melaksanakan Salat, tradisi menyembelih hewan kurban seperti sapi dan kambing menjadi bagian integral dari perayaan ini. Daging dari hewan kurban tersebut kemudian dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Melalui pembagian daging kurban, nilai-nilai kepedulian dan berbagi juga diimplementasikan. Ini menjadi salah satu cara bagi umat Islam untuk menunjukkan rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.
Peran Komunitas dalam Pelaksanaan Ibadah
Kegiatan ibadah seperti Salat Idul Adha tidak dapat dipisahkan dari peran komunitas. Komunitas An-Nadzir menunjukkan bahwa ibadah dapat dilakukan dengan keunikan masing-masing tanpa kehilangan esensi dari ajaran agama.
Solidaritas dalam komunitas menjadi kekuatan, terutama saat menjalankan ibadah yang melibatkan banyak orang. Kebersamaan ini tidak hanya membangun hubungan antar sesama jamaah, tetapi juga memperkuat iman.
Setiap tahun, pelaksanaan Salat Idul Adha menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial. Dalam banyak hal, kebersamaan ini tidak hanya dirasakan di kalangan jamaah, tetapi juga oleh masyarakat luas.
















