Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan rencananya untuk berdiskusi dengan Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Ova Emilia, mengenai penjualan rumah peninggalan Prof. dr. M. Sardjito. Rumah tersebut merupakan warisan budaya yang berpotensi untuk dilestarikan demi kepentingan masyarakat dan sejarah bangsa.
Dalam upaya ini, Hasto juga akan menjalin komunikasi dengan keluarga ahli waris serta direktur RSUP dr. Sardjito. Rencana pertemuan ini digelar untuk mencari solusi terbaik mengenai nasib rumah yang memiliki nilai historis tinggi tersebut.
“Segera saya akan bertemu dengan keluarganya untuk mendiskusikan langkah selanjutnya,” ungkap Hasto saat dihubungi, Jumat lalu.
Rumah Peninggalan yang Menyimpan Sejarah Besar
Rumah warisan Sardjito berlokasi di Kelurahan Terban, Kecamatan Gondokusuman, Kota Yogyakarta. Ahli waris berencana menjual rumah tersebut kepada pihak yang dapat menjamin pelestarian warisan budaya yang ada di dalamnya.
Hasto mengaku bahwa dirinya pernah mendengar tentang status rumah ini sebagai warisan budaya. Meski begitu, dia mengakui bahwa bangunan ini belum mendapatkan perhatian yang cukup dari Pemkot Yogyakarta sebelumnya.
Dia menyatakan bahwa idealnya, rumah tersebut harus diakuisisi oleh pemerintah, UGM, atau RSUP dr. Sardjito. Hal ini dikarenakan bangunan itu menyimpan nilai-nilai historis yang penting dalam perjalanan pendidikan dan kesehatan di Yogyakarta.
Selain nilai sejarah, rumah tersebut juga menjadi tempat lahirnya bisnis keluarga yang terkenal, yaitu obat tradisional ‘Calcusol’ yang diproduksi oleh PT. Jamu Tradisional Dr. Sardjito. Ini menunjukkan kontribusi rumah tersebut dalam perkembangan dunia kesehatan di Indonesia.
Kesulitan dalam Pengadaan Anggaran untuk Pelestarian
Bagi Pemkot Yogyakarta, saat ini tidak memungkinkan untuk melakukan pengadaan lahan atau bangunan terkait dengan anggaran yang sudah ditetapkan untuk tahun 2026. Hasto menekankan bahwa ada perlunya evaluasi terlebih dahulu mengenai kondisi keuangan daerah.
“Sebelum mengambil keputusan, kita perlu melihat kemampuan anggaran dan berdiskusi lebih lanjut,” tekan Hasto. Ia berharap bahwa rumah peninggalan Sardjito tidak jatuh ke tangan individu atau pihak swasta yang mungkin tidak memiliki kepentingan untuk melestarikannya.
Hasto juga menegaskan bahwa Pemkot Yogyakarta tetap terbuka untuk mengambil bagian dalam pelestarian bangunan bersejarah ini. Namun, berbagai langkah harus dilakukan terlebih dahulu, termasuk pengajuan dana keistimewaan kepada Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Kami memang pernah mendengar tentang rumah Sardjito, namun tidak menyangka bahwa rumah ini kemudian akan dijual,” tambahnya. Ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi antara pihak-pihak terkait untuk menjamin kelangsungan sejarah.
Harapan Ahli Waris terhadap Masa Depan Rumah
Para ahli waris dan kerabat dekat Sardjito telah sepakat untuk menjual rumah ini dengan alasan untuk perawatan yang lebih baik. Budhi Susanto, salah satu kerabat yang tinggal di rumah itu, telah menawarkan bangunan dan lahan kepada sepuluh pihak, termasuk UGM dan UII.
Budhi berharap agar UGM atau UII memiliki minat untuk membeli rumah tersebut. Ia membayangkan rumah itu akan menjadi museum Sardjito atau kembali berfungsi sebagai rumah dinas rektor.
Sardjito dikenal sebagai pahlawan nasional dan pernah menjabat sebagai rektor pertama UGM serta rektor ketiga UII. Dengan harapan ini, Budhi menegaskan bahwa rumah ini paling baik jika digunakan untuk kepentingan sejarah atau pendidikan.
Dia menolak untuk mengungkapkan harga pasti rumah tersebut, tetapi menegaskan bahwa lokasi strategis di pusat kota Yogyakarta akan menarik banyak minat. Namun, sebuah hal yang ingin dihindarinya adalah agar rumah ini tidak dijadikan kafe seperti banyak bangunan lain di sekitarnya.
“Saya berharap rumah ini direnovasi dengan baik dan dijadikan museum atau pusat kegiatan sosial. Ini akan menjaga semangat yang dibawa oleh Pak Sardjito,” tutup Budhi.










